Tag Archives: river cruise

Pacitan – Wonogiri Road Trip #1 : Jelajah sungai di Amazon van Java, Sungai Maron

Demi sebuah road trip ke Wonogiri dan Pacitan, travelmate saya sampai rela cuti sehari dari kantornya. Saya juga rela menghabiskan beberapa ratus ribu rupiah untuk memperbaiki motor bebek milik adik saya agar bisa saya pakai dengan nyaman :D. Kalau road trip agak jauh dan semi off road saya memang lebih suka memakai motor bebek biasa daripada motor matic. Anyway, mungkin road trip ini adalah kesempatan road trip keluar Jogja terakhir saya bersama genk para tante, karena saya berencana pindah dari Jogja secepatnya. Kami telah membuat list tempat-tempat mana saja yang akan kami kunjungi di Pacitan dan Wonogiri. Beberapa tempat memang pernah saya sambangi beberapa tahun yang lalu, tapi demi yang belum pernah ayuk aja deh 🙂 . Kami bertiga berangkat pagi dari kota Jogja dan mampir sejenak untuk sarapan. Kami menempuh perjalanan kurang lebih 63 km sampai ke destinasi pertama kami yaitu museum kars dunia yang ada di Pracimantoro, kabupaten Wonogiri. Hari itu hari jum’at dan museumnya tutup 😦 . Kecewa sih, soalnya kami juga ga googling dulu sebelumnya tentang hari buka museum yang ternyata tutup di hari jum’at. Sepengetahuan kami biasanya museum atau tempat wisata itu tutupnya selalu hari senin. Mumpung masih pagi, kami langsung ke destinasi berikutnya di kabupaten Pacitan. Jaraknya masih 35 km dari museum kars.

Pernah dengar tentang sungai maron ? Sebuah sungai yang terkenal dengan sebutan amazon di pulau Jawa, menurut para traveler yang pernah ke sana. Saya sendiri sudah googling tentang wisata sungai ini sejak beberapa tahun yang lalu dan saya memang pengen banget boating trip di sungai ini. Di pulau Jawa menurut saya memang banyak wisata jelajah sungai dari mulai rafting, canoing sampai tubing , tetapi hanya beberapa sungai saja yang ada boating tripnya. Di Jogja sendiri kayaknya ga ada deh wisata boating trip di sungai *CMIIW. Untuk menuju ke dusun Maron, ternyata jalannya sereeem dengan aspal rusak berbatu besar. Terdapat beberapa tanjakan, turunan dan tikungan tajam. Untung saja kami naik motor. Kalau naik mobil kok keliatannya bakal serem banget. Beberapa warga setempat tampak berjaga-jaga di tikungan jalan mengawasi kendaraan yang melintas agar tidak saling bertabrakan. Jalannya masih sangat sempit. Kami tiba di dusun Maron tepat jam 12 siang. Sebelum masuk dusun setiap pengunjung diwajibkan membayar retribusi wisata Rp 2000 per orang. Karena masih capek kami leyeh-leyeh sebentar untuk jajan di warung setempat. Ya iyalah capek sungai maron ini jaraknya hampir 100 km dari Jogja bo 😀 . Siang itu wisata jelajah sungai maron tampak masih sepi pengunjung.
Jpeg

Dermaga bambu untuk boat tripping di sungai maron

Kami kemudian menyewa sebuah perahu. Biaya sewa perahu Rp 100.000 per trip. Satu perahu maksimal hanya boleh untuk 6 orang saja. Jika penumpangannya 7 orang atau lebih diharuskan menyewa 2 perahu. Dermaga wisata sungai maron ini masih sangat sederhana, terbuat dari bambu. Kesannya eco dan natural. Semoga nantinya ga diganti jadi dermaga semen. Sebelum naik ke perahu kami diwajibkan untuk memakai live jacket terlebih dahulu. Kami dijemput sebuah perahu bertuliskan cenderawasih. Karena kami hanya bertiga, kami leluasa duduk dengan nyaman di atas perahu. Motorist perahu kami bilang kami akan menempuh perjalanan sejauh 4 km pulang pergi. Ia bertanya kepada kami ingin berperahu cepat atau lambat. Jelas dunk kami milih yang lambat-lambat saja. Kami benar-benar ingin menikmati perjalanan ini, meskipun matahari sedang terik-teriknya. Sungai maron siang itu airnya berwarna coklat pekat. Motorist perahu kami bilang setiap musim hujan warna sungainya selalu coklat dan berubah kembali menjadi tosca saat musim kemarau. Jadi penasaran kalau pas tosca jadi seperti apa ya?
IMG-20160328-WA0083

Tante-tante wefie 😀 , we were excited!

Jpeg

Sungai maron, amazon van java

Menurut saya sungai ini disebut amazon van java karena pemandangan di kanan kirinya masih alami dan sangat istimewa. Rasanya kayak ga di Jawa :D. Perbukitan kars hijau dengan gua-gua kars menggantung di tebing-tebing, terlihat sangat epic dilihat dari atas perahu. Pohon-pohon kelapa berjejeran dengan apiknya di pinggir sungai seperti di sungai loboc, Filipina yang terkenal itu. Saya jadi ingat karena pernah membaca artikel tentang sungai loboc di majalah national geographic. Mas motoris bilang di sungai ini juga banyak ikan yang biasa dipancing oleh penduduk setempat. Beberapa wisatawan terkadang juga datang ke sungai ini khusus untuk memancing. Travelmate saya Hans, dengan isengnya bertanya apakah di sungai ini ada buayanya atau tidak. Tentu saja dijawab tidak, tetapi mas motorisnya bilang di sungai ini banyak biawaknya dan besar-besar. Baru saja kami ngobrol soal biawak, eh ada biawak nongol di atas bebatuan di pinggir sungai.
IMG-20160328-WA0082

Pohon kelapa berbentuk L

Jpeg

Lembah di pinggir sungai maron dengan pohon kelapa yang berjejeran

Jpeg

Masih banyak lagi pohon kelapa

Boat trip siang itu kemudian berujung di muara sungai yang terletak di pantai ngiriboyo. Jika pengunjung ingin mendarat  di pantai ini, per orang diwajibkan membayar uang retribusi Rp 5000. Ternyata boat trip ini juga bisa dilakukan dari pantai ngiriboyo. Banyak perahu yang bisa disewa dari sini, tetapi jarak tempuhnya lebih pendek daripada yang dari dusun maron. Kami kemudian mendarat sebentar di pantai berpasir putih campur hitam ini. Saat perjalanan pulang ke dusun maron, motoris perahu kami menunjukkan suatu tempat yang katanya merupakan sebuah mata air. Sayang setiap musim hujan mata air yang warnanya biru ikut-ikutan berubah menjadi coklat juga. Sebagai tante-tante yang jarang naik perahu di sungai dengan pemandangan yang amazingly green, kami sangat menikmati boat trip siang itu. Well, semoga saja sungai maron ini akan tetap hijau dan lestari meskipun pengunjungnya terus bertambah. Please keep the river clean please.

Jpeg

Pantai ngiriboyo, Pacitan

Jpeg

Kawasan mata air di sungai maron

Jpeg

Bertemu boat wisatawan lain

 

10 Komentar

Filed under Keliling Indonesia

Catatan perjalanan ke Thailand #13 : Hari terakhir di Bangkok

Hari terakhir di Bangkok, kami kembali menginap di Baan Hua Lamphong supaya keesokan harinya kami bisa berangkat ke Bandara dengan mudah. Kali ini kami menyewa kamar dorm berisi 4 orang dengan tarif 200 bath atau Rp 80.000 per orang termasuk sarapan. Untung saja pagi itu kamar di penginapan ini ada yang kosong setelah perjalanan kereta kami dari Chiang Mai. Meskipun semalam kami tidur di kereta, pagi itu kami ga capek-capek amat untuk eksploring Bangkok.

Hari terakhir ini kami manfaatkan untuk mencoba perahu turis Chao Phraya river cruise. Untuk menuju shelter terdekat dari Hua Lamphong kami hanya tinggal jalan kaki saja. Siang itu di Si Phraya river pier aka shelter perahu turis, dipenuhi banyak sekali turis yang antri untuk mencoba river cruise ini. Pas perahunya datang ternyata ukurannya besar sekali. Turis-turis yang mengantri tadi tinggal sekali angkut. Kami membayar langsung di atas perahu 30 bath per shelter, karena kami melewati 2 shelter supaya bisa lewat Wat Arun, kami membayar 60 bath. Lumayan mahal juga pemirsa buat kantong backpacker kami, sedangkan jaraknya dekat-dekat. Di atas river cruise ini ada pemandu wisata yang menerangkan tentang tempat-tempat yang dilewati. Saya benar-benar terkesima pas kami melewati Wat Arun, kuil kebanggaan masyarakat Bangkok. Sayang waktu itu Wat Arun sedang ditutup untuk renovasi.
suasana di dalam river cruise bangkok

suasana di dalam river cruise bangkok

Bangkok view dari Chao Phraya

Bangkok view dari Chao Phraya

salah satu bangunan bersejarah sepanjang chao phraya

salah satu bangunan bersejarah sepanjang chao phraya

benteng tua di pinggir chao phraya

benteng tua di pinggir chao phraya

Wat Arun dari river cruise kami

Wat Arun dari river cruise kami

Kami kemudian berhenti di sebuah pier tidak jauh dari Wat Pho. Saya kemudian memutuskan untuk menghabiskan bath-bath terakhir saya untuk masuk ke Wat Pho. Teman-teman saya waktu itu menunggu di luar dengan alasan sudah melihat banyak temple. Tarif untuk orang asing masuk ke Wat Pho adalah 100 bath atau sekitar Rp 40.000, dan diberikan gratis sebotol air mineral. Untuk orang Thailand mereka tinggal masuk-masuk saja tidak membayar tiket apapun karena Wat Pho adalah tempat ibadah.

Wat Pho ini merupakan salah satu royal temple atau kuil utama di Thailand yang dibangun sebelum kota Bangkok menjadi ibukota kerajaan. Di dalam Wat Pho ini terdapat 1000 lebih gambar Buddha dan sebuah patung Buddha tidur raksasa yang terbuat dari kuningan. Buddha tidur yang dibangun pada tahun 1832 M ini, merupakan reprensentasi dari Buddha yang memasuki nirwana dan mengakhiri perjalanan reinkarnasinya selama di dunia. Panjang Buddha tidur ini adalah 46 meter dan tingginya 15 meter. Kebayang kan seberapa besarnya?  Kaki Buddhanya mempunyai panjang 4,5 meter dengan tinggi 3 meter dan dipenuhi ornamen-ornamen yang merupakan simbol-simbol Buddha. Disekeliling patung Buddha tidur ini terdapat 108 mangkok perunggu yang melambangakan 108 karakter Buddha. Di komplek Wat Pho ini juga terdapat 91 chedi atau stupa-stupa yang full ornamen dan bentuknya cantik-cantik. Pada jaman dahulu kala Wat Pho juga merupakan sekolah untuk belajar agama, seni bahkan thai massage. Seperti halnya ketika mengunjungi Grand Palace, tempat ini juga penuh sesak dijejali wisatawan.

The magnificient reclining Buddha of Wat Pho

The magnificient reclining Buddha of Wat Pho

Reclining Buddha of Wat Pho

Reclining Buddha of Wat Pho

bejana perunggu di sekitar patung reclining Buddha

bejana perunggu di sekitar patung reclining Buddha

Salah satu chedi di Wat Pho

Salah satu chedi di Wat Pho

altar Buddha di Wat Pho

altar Buddha di Wat Pho

Kami kemudian melanjutkan perjalanan kami dengan berjalan kaki melintasi pasar tradisional tidak jauh dari Wat Pho. Saya bahkan tidak tahu apa nama pasarnya yang jelas selain sayur mayur dan buah, para pedagang di sana juga banyak menjual bunga-bunga untuk sesaji Buddha. Pemandangan yang sangat berbeda dari pasar yang ada di Jawa 😀 . Sore itu kami habiskan dengan random walk saja sampai kembali ke penginapan. Meskipun secara kilometer terhitung jauh , tapi kami tidak perlu mengeluarkan bath lagi yang sebenarnya sudah sangat menipis :D.

the real labu siam?

the real labu siam?

rangkaian bunga untuk sesaji yang dijual di pasar

rangkaian bunga untuk sesaji yang dijual di pasar

rangkaian bunga untuk sesaji yang dijual di pasar #2

rangkaian bunga untuk sesaji yang dijual di pasar #2

teman saya Kuta sedang jajan di jalan

teman saya Kuta sedang jajan di jalan

Ternyata di Thailand juga ada yang begini!

Ternyata di Thailand juga ada yang begini!

Overall dari pengalaman kami 11 hari di Thailand sangat menyenangkan dan membahagiakan! Selain secara budaya Thailand sangat menarik, akomodasi di sana juga masih terjangkau untuk orang Indonesia. Selama 11 hari ini saya pribadi hanya menghabiskan sekitar Rp 3.000.000 termasuk tiket pesawat pulang pergi. Well tiketnya memang promo, tetapi dengan uang segitu kami juga ga backpackere-kere amat :D. Perjalanan seperti ini sangat recommended untuk backpacker pemula seperti saya. Kop Kun Kaap Thailand!! See you again someday!

Tinggalkan komentar

Filed under Ke Luar Negeri