Tag Archives: rumah adat

Mampir sejenak ke kampung adat senaru, kampung tradisional di kaki gunung rinjani

Kampung adat senaru, salah satu kampung tradisional di Lombok Utara

Kampung adat senaru, salah satu kampung tradisional di Lombok Utara

Selama beberapa hari ini saya dan teman-teman penelitian saya tinggal di desa Senaru, kecamatan Bayan untuk mengerjakan tugas. Desa ini cukup terkenal terutama bagi mereka para pendaki gunung rinjani, karena desa ini merupakan salah satu gerbang pendakian ke puncak Rinjani. Di desa ini juga terdapat beberapa air terjun yang terkenal dengan keindahannya.  Selain itu desa senaru juga memiliki sebuah kampung adat suku sasak yang masih terjaga keasliannya. Di Lombok utara memang terdapat beberapa kampung adat yang rumah-rumah warganya masih tradisional. Kampung adat senaru berada persis di gerbang pendakian senaru di ketinggian 650 meter di atas permukaan laut. Untuk menuju ke desa senaru, dari kota mataram memerlukan waktu 2,5 sampai 3 jam, dengan jarak 86 km. Kebayang kan? pulau Lombok yang terlihat kecil ternyata luas sekali!

Rumah-rumah bambu berjajar rapi di kampung adat senaru

Rumah-rumah bambu berjajar rapi di kampung adat senaru

Sore itu kami datang ke kampung adat senaru bermaksud untuk mencari seseorang dalam daftar penelitian kami. Kampung yang berada di dusun Senaru itu terlihat sangat sepi. Karena hujan turun deras sekali, kami berteduh di salah satu rumah penduduk. Kami sempat ngorbrol sedikit dengan seorang Ibu yang tinggal di sana. Ia bilang kampung adat ini sudah dari dulu bentuknya seperti ini, tidak pernah berubah dan memang sengaja dijaga keasliannya untuk mengenalkan kampung tradisional lombok utara kepada para wisatawan.  Kampung ini dulunya merupakan wilayah kerajaan Bayan, sebuah kerajaan di Lombok Utara. Katanya, tidak semua orang atau warga desa senaru bisa tinggal di kampung adat ini. Warga yang tinggal di sini harus memegang teguh adat istiadat dan rela hidup di rumah-rumah tradisional. Semua keputusan adat dan kegiatan adat yang ada di kampung ini diputuskan bersama-sama dan dipimpin oleh seorang melokaq yaitu tetua adat setempat.

Lorong di kampung adat senaru

Lorong di kampung adat senaru

Rumah-rumah di kampung ini semuanya masih terbuat dari bahan yang sama. Beratap alang-alang dan bambu serta berlantai tanah atau semen batu. Dindingnya terbuat dari bambu yang dianyam. Bentuk rumah-rumahnya juga seragam dan memiliki empat tiang yang disebut dengan sekepat. Ruangan di dalam rumah-rumah tradisional ini ada yang terdiri dari satu lantai ada yang terdiri dari dua lantai. Jika rumahnya terdiri dari dua lantai, lantai ke dua berada persis di bawah loteng atap. Selain bangunan rumah utama, di antara rumah-rumah ini terdapat berugaq, tempat masyarakat berkumpul atau menerima tamu. Di berugaq yang juga beratap alang-alang dan bambu ini terdapat pajangan tanduk kerbau. Katanya sih sebagai tanda kekayaan si pemiliknya. Selain bangunan berugaq, terdapat pula bangunan bumi gora yaitu lumbung padi tradisional ala lombok yang berbentuk panggung. Padi hasil panen selalu disimpan di bumi gora ini. Masyarakat di kampung ini yang sebagian besar adalah petani dan peternak. Mereka menanam padi serta berkebun coklat dan cengkeh. Mereka biasanya beternak sapi coklat, kerbau dan ayam. Sapi dan kerbaunya di tempatkan di samping kampung , diikatkan di sebuah kayu besar. Mereka juga masih memasak dengan tungku kayu bakar.Kayu-kayunya disimpan di bawah berugaq. Saya merasa seperti di berada di jaman dunia persilatan ketika berada di sini, saking jadulnya kampung ini :). So traditional! Kampung adat ini di waktu tertentu masih menyelenggarakan upacara adat yang meriah dan bisa disaksikan oleh para wisatawan. Seperti ketika panen raya dan ketika ada acara pernikahan. Hari-hari besar agama islam juga diperingati dengan meriah, ala adat mereka sendiri.

Lumbung padi masyarakat kampung adat senaru

Lumbung padi masyarakat kampung adat senaru

Berugaq, tempat menerima tamu

Berugaq, tempat menerima tamu dengan pajangan tanduk kerbau

Bapak-bapak sedang berteduh di bawah berugaq sambil bercengkerama

Bapak-bapak sedang berteduh di bawah berugaq sambil bercengkerama

Kampung adat nan sejuk di kaki gunung rinjani

Kampung adat nan sejuk di kaki gunung rinjani

Sambil menunggu hujan reda, kami mengamati kegiatan masyarakat di desa ini. Rasanya damai sekali berada di desa dengan udara super sejuk ini. Kalau ada kesempatan sih, pengen juga tinggal di rumah adat dan belajar budaya tradisional mereka lebih dalam.  Setelah bertanya kepada beberapa penduduk setempat, orang yang kami cari ternyata tidak tinggal di kampung tradisional. Kami kemudian melanjutkan perjalanan setelah hujan reda. Lombok memang tak hanya pantai dan gunung, kekayaan budaya tradisionalnya juga menarik dan patut diapresiasi.
Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Keliling Indonesia

Desa Todo dan jejak adat suku manggarai

Narsis di depan mbaru niang Todo

Narsis di depan mbaru niang Todo

Untuk mengobati kekecewaan saya karena tidak jadi mendaki ke waerebo, dua orang teman satu tim penelitian saya mengajak saya ke suatu tempat. Sebuah desa yang juga berada di atas perbukitan. Hanya saja kami tidak perlu trekking untuk ke desa ini karena desa ini bisa dicapai dengan kendaraan bermotor. Waktu itu kami menyewa motor Rp 100.000 per hari dari basecamp kami yang berada di Iteng, Satarmese. Transportasi umum, bahkan dari kota Ruteng pun masih sangat terbatas.  Desa ini bernama desa Todo. Bagi suku manggarai sendiri desa ini adalah desa adat tua tempat awal kebudayaan mereka berkembang. Dahulu di sanalah pusat dari kerajaan manggarai todo. Setidaknya begitulah yang dikatakan beberapa responden penelitian saya tentang desa ini.

Saya dikenalkan kepada Pak Titus, penjaga situs rumah adat yang juga bekerja untuk dinas pariwisata Manggarai. Ia menjelaskan beberapa tata cara untuk memasuki situs Todo ini. Salah satunya adalah pengunjung diwajibkan untuk mengenakan pakaian adat Todo. Pengunjung bisa menyewa pakaian adat tersebut kepada pak Titus. Waktu itu saya hanya membayar Rp 10.000 untuk menyewa satu set sarung tenun dan selendang. Istri pak Titus kemudian membantu saya berpakaian ala orang Todo. Pak Titus menjelaskan supaya pengunjung tahu makna dan sejarah dari beberapa simbol bangunan di situs ini, pengunjung harus dipandu dan dijelaskan secara rinci. Menurutnya, jaman sekarang banyak turis yang hanya mau foto-foto tanpa mau tahu adat budaya dan sejarah yang ada.

Pak Titus lalu membawa saya ke sebuah gundukan batu yang berseberangan dari rumah adat di sana yang disebut mbaru niang Todo. Ia kemudian menjelaskan panjang lebar mengenai fungsi-fungsi batu yang disusun sejak zaman kerajaan Todo dahulu.  Salah satu fungsi utamanya adalah untuk mengadakan upacara-upacara adat, seperti perkawinan  dan upacara adat sebelum membangun rumah gendhang. Setiap desa di kabupaten manggarai memiliki rumah gendhang atau rumah adat yang berufngsi juga sebagai tempat musyawarah. Sampai saat ini, rumah gendhang ini masih ada di setiap desa. Pada zaman dahulu kala setiap desa yang ingin membuat rumah gendhang baru harus datang dahulu ke mbaru niang todo untuk diupacarakan. Mbaru niang Todo adalah ibu bagi rumah gendhang yang ada di seluruh Manggarai. Termasuk juga rumah-rumah gendhang yang ada di Waerebo. Menurut pak Titus yang dulu juga sering mengantarkan wisatawan ke Waerebo, rumah-rumah adat yang ada di sana adalah rumah gendhang juga, bukan rumah niang karena rumah niang hanya ada di Todo. Waerebo menjadi lebih terkenal daripada Todo karena masyarakat di sana memang sangat menjaga adat istiadat asli dan banyak wisatawan yang mepromosikannya. Dahulu di desa Todo ada beberapa rumah gendhang yang mengelilingi mbaru niang ini. Tetapi kemudian rusak karena kurang terawat. Ia mengatakan beberapa tahun ini desa Todo akan membangun rumah-rumah gendhang baru yang akan didanai pemerintah dan bantuan luar. Di antara susunan batu-batu di depan mbaru niang terdapat meriam-meriam dari Inggris. Konon dahulu kerajaan Todo sering berteman dengan bangsa asing yang datang.

meriam Inggris milik kerajaan Todo

meriam Inggris milik kerajaan Todo

Pak Titus kemudian mempersilahkan saya memasuki bangunan mbaru niang yang seluruh bagian luarnya dilapisi ijuk dari atap sampai ke bawah. Saya diharuskan melepas alas kaki untuk menghormati adat setempat. Pembangunan rumah niang ini memakai bahan-bahan kayu khusus yang menjadi pasak-pasak utamanya. Di pintu masuk terdapat  kayu-kayu ukiran-ukiran khas manggarai. Ketika saya melihat langit-langit rumah niang ini, penuh dengan rangkaian rotan yang bersaling-silang. Di mbaru niang ini masih ada beberapa keluarga yang tinggal dan memiliki dapur tradisional di dalamnya. Ada pula alat-alat musik tradisional yang dipajang dan hanya dimainkan saat acara adat. Di puncak mbaru niang terdapat tanduk kerbau sebagai simbol bahwa nenek moyang mereka berasal dari Minangkabau. Hah? Ini beberapa kalinya saya bertemu tokoh desa yang bilang bahwa nenek moyang orang manggarai adalah orang Minangkabau atau lebih tepatnya pelaut Minangkabau. Saat saya menulis postingan ini saya belum dapat sumber resmi tentang sejarah suku Manggarai dari Minangkabau. Saya jadi teringat ke sebuah perjalanan saya mengulik asal-usul suku Minangkabau di Pariangan bahwa mereka adalah keturunan Alexander The Great. Jadi kalau memang benar suku Manggarai keturunan Alexander The great juga dunk?
Ukiran kayu di pintu masuk mbaru niang

Ukiran kayu di pintu masuk mbaru niang

satu set alat musik milik desa adat Todo

satu set alat musik milik desa adat Todo

Salah satu yang membuat saya ingin mengunjungi mbaru niang todo adalah adanya sebuah legenda tentang gendhang yang terbuat dari kulit perut manusia. Seluruh warga Manggarai tahu tentang cerita ini, terutama para responden penelitian saya. Konon katanya gendhang itu dari kulit seorang putri siluman yang enggan diperistri raja.  Rasanya merinding, bagaimana bisa kulit perut manusia dijadikan gendhang. Ketika saya bertanya kepada pak Titus , ia mengiyakan cerita tersebut. Gendhangnya disimpan di tempat rahasia di mbaru niang yang sedang saya masuki. Ia bilang untuk melihat gendhang ini masyarakat adat harus melakukan upacara yang menghabiskan Rp 600.000.

mbaru niang Todo

mbaru niang Todo

Setelah puas berada di dalam rumah adat, saya kemudian diantarkan pak Titus kepada para perajin kain tenun yang ada di samping rumah adat. Ibu-ibu di Todo sebagian besar bisa menenun. Mereka juga menurunkan ilmunya kepada anak-anak perempuan mereka. Motif tenun Todo berbeda dengan motif-motif tenun yang ada di manggarai. Motifnya garis-garis dengan kombinasi warna yang bermacam-macam. Ibu-ibu ini menenun sarung dan selendang. Selendangnya keren banget dijadikan syal kalau menurut saya. Mereka menjual kain tenun ini dari harga ratusan ribu sampai jutaan tergantung benang dan kerumitan tenunannya.

Ibu-ibu Todo sedang menenun

Ibu-ibu Todo sedang menenun

Menurut saya pribadi jika anda ingin ke Waerebo sebaiknya mengunjungi desa Todo terlebih dahulu supaya lebih komplit dari urutan sejarah suku manggarai yang berasal dari kerajaan Todo. Semoga saja, saat kunjungan ke Flores selanjutnya saya bisa ke waerebo juga 😀 .

Tinggalkan komentar

Filed under Keliling Indonesia