Tag Archives: seafood

Menikmati ikan bakar ala Sasak Lombok di pantai nipah

pantai nipah, lombok utara

pantai nipah, lombok utara

Sore itu saya dan tim penelitian saya pindahan base camp dari kota mataram ke kota tanjung, lombok utara. Mobil yang kami sewa mengambil rute jalan pesisir pantai supaya kami bisa melihat-lihat pemandangan pesisir pantai barat lombok yang ciamik. Jalan-jalan yang kami lalui berkelok-kelok dan naik turun karena terdapat banyak perbukitan di daerah pesisir pantai ini. Pemandangannya memang sangat indah karena perpaduan hijaunya bukit-bukit dan birunya laut sangat memanjakan mata kami. Sembari menunggu tenggelamnya matahari, supervisor tim kami meminta sopir mobil sewaan kami untuk menepi di pantai nipah. Salah satu pantai berpasir putih di pesisir barat pulau lombok. Yang menarik dari pantai ini adalah banyaknya gubug-gubug ikan bakar khas Lombok di sepinggir jalan raya. Baru melihat dari jauh saya rasanya air liur saya sudah menetes. Meskipun saya sudah makan siang sebelumnya, saya tetap merasa lapar jika melihat kuliner khas yang tampak sangat lezat ini. Supervisor kami kemudian mengajak kami makan bersama di salah satu gubug tersebut. Kami memilih gubug yang paling ujung dekat pantai supaya kami bisa bermain ombak sembari menunggu ikan bakarnya matang. Pantai nipah ini ombaknya landai, sangat cocok untuk bermain air dan berenang. Sayangnya karena sudah terlalu sore, kami tidak mungkin berenang di sana. Pantai ini juga sangat cocok untuk menikmati tenggelamnya matahari terbenam.

ikan bakar pantai nipah

ikan bakar pantai nipah

Setengah jam kemudian ikan bakar kami matang. Ikan bakar khas Lombok benar-benar dibakar. Tidak digoreng kemudian dibakar. Dibumbui dengan kecap dan aneka rempah lain ketika proses pembakaran. Ikan-ikan ini dibakar menggunakan sabut kelapa kering. Biasanya gubug-gubug di sini menyediakan ikan kakap, ikan merah, kakap hitam, kakap putih dan ikan dorang. Benar-benar ikan yang fresh dari nelayan setempat. Yang khas dari ikan bakar ini adalah disajikan dengan sambal plecing nan pedas cetar membahana, plecing kangkung, terong penyet dan aneka lalapan. Aneka lalapanya terdiri dari terong hijau bulat mentah, kol dan mentimun. Terong penyet setengah matang yang disajikan di sini menurut saya rasanya istimewa karena teksturnya pas di lidah saya, tidak mentah dan juga tidak terlalu matang. Jika anda sedang traveling ke pulau Lombok, silahkan saja mampir ke kuliner lokal yang ada di pantai nipah ini. Selain harganya terjangkau, rasanya khas dan lokasinya mudah dicapai. Anda hanya tinggal memacu kendaraan anda menyusuri pesisir pantai barat-utara lombok dari pantai senggigi.

ikan bakar khas lombok

ikan bakar khas sasak lombok

Lokasi pantai nipah, pulau lombok di google map :

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Keliling Indonesia, Travel Food and Fruit

Jurnal teluk bintuni part 9 : Antara Ikan, Udang dan Kepiting

Hampir dua bulan saya berkeliling distrik yang berada di kabupaten teluk bintuni, membuat pola makan saya berubah total. Sebagai orang jawa yang tinggal di Yogyakarta, sehari-hari saya biasanya mengkonsumsi tempe, tahu, sayur-mayur dan ayam. Kalau jajanpun biasanya saya paling sering membeli bakso atau mie ayam. Di teluk bintuni sehari-hari saya dan teman-teman satu tim penelitian saya mengkonsumsi makanan yang kami masak sendiri dengan bahan-bahan yang paling mudah kami dapatkan di sana. Teluk bintuni adalah daerah perairan laut, sungai dan rawa yang menyimpan sumber daya seafood yang luar biasa jumlahnya. Sebenarnya dan sesungguhnya saya adalah penggemar seafood terutama kepiting dan ikan laut. Sayang ketika di Jogja, harga seafood terutama kepiting mahal dan pakai banget.

Sewaktu tim penelitian saya dikirim ke desa wimro yang terletak di distrik Aruba, kami tinggal di rumah kepala kampung selama 3 hari. Di hari terakhir kami berpesta kepiting di sana. Harga kepiting di kampung ini sangatlah terjangkau. Satu buah kepiting kecil dihargai Rp 5000 rupiah. Tapi sekecil-kecilnya kepiting yang dijual di sini tetap saja beratnya mencapai setengah kilogram. Harga kepiting paling mahal adalah Rp 15.000 dan ini sudah sangat besar sekali. Kepiting yang ini besarnya belum pernah saya lihat dengan mata kepala saya sendiri. Besar banget! Kepiting yang ada di desa wimro ini adalah jenis kepiting hijau yang hidup di daerah bakau. Karena desa wimro dikelilingi pohon bakau, sebenarnya kalau niat berburu kepiting sendiri sih tinggal nyemplung saja. Makhluk ini sangat gampang dijumpai sedang bersantai-santai di pohon bakau dan tinggal diciduk *EH*. Pesta kepiting yang kami lakukan sangat simpel. Kami hanya tinggal mengumpulkan kayu bakar dan membakar kepitingnya langsung di atas kayu setelah dibersihkan. Tidak perlu tambahan bumbu apapun, rasanya sangat manis dan enak. Mungkin karena air rawa di daerah ini masih sangat alami dan tidak terkontaminasi zat-zat yang merusak rasa kepiting *jiah*. Beberapa hari kemudian ketika kami tinggal di distrik Babo, kami membeli kepiting lagi dengan harga Rp 60.000 untuk satu ember kepiting yang jumlahnya 12 ekor. Murah sangat! Kepitingnya juga tidak kalah besar seperti di desa Wimro. Kami mencoba memasak kepiting dengan cara digulai. Rasa manisnya tetap lekat di lidah. Di Babo juga amat sangat mudah untuk mendapatkan kepiting. Biasanya para pekerja perusahaan minyak yang akan kembali ke Jawa membawa oleh-oleh kepiting yang dimasukkan ke dalam kotak es.

kepiting bakar raksasa dari desa wimro

kepiting bakar raksasa dari desa wimro

Kepiting gulai kuning yang kami masak di distrik Babo

Kepiting gulai kuning yang kami masak di distrik Babo

Selain pesta kepiting, kami juga pesta udang. Waktu itu di Babo udang sekilo hanya Rp 15.000. Tetapi karena salah satu kenalan pengemudi ketinting kami kelebihan hasil udang, kami mendapatkan 5 kg udang secara gratis. Udang segar itu kemudian hanya kami bumbui bawang dan garam lalu kami bakar. Selain udang laut, di distrik Tomu ada juga udang sungai sepanjang 10-12 cm yang dijual Rp 6000 untuk 5 ekor udang. Kami sesekali membelinya dan hanya menggorengnya dengan bumbu garam. Salah satu kampung yang terkenal sebagai penghasil udang adalah kampung magarina yang masih termasuk wilayah distrik weriagar. Ketika musim udang, para nelayan hanya tinggal menebar jaring tidak jauh dari kampung dan dengan mudah mereka bisa mendapatkan 100 kg udang dalam sehari. Menurut beberapa nelayan yang kami wawancarai, ketika musim udang, mereka sudah bisa melihat sekumpulan udang berloncatan di sekitar perahu mereka seperti cendol. Wih! ga kebayang deh saking banyaknya udang lautan menjadi seperti cendol. Udang-udang di Magarina ini kebanyakan dijual keluar papua karena harganya bisa menjadi berkali-kali lipat.

Pesta udang gratisan di distrik Babo

Pesta udang gratisan di distrik Babo

Nelayan Magarina sedang panen udang

Nelayan Magarina sedang panen udang

Untuk mengimbangi udang dan kepiting yang penuh dengan kolesterol, kami sehari-hari memasak ikan laut. Ikan laut di sebagian besar distrik di teluk bintuni tidak dijual perkilo tetapi per ikat. Satu ikat ikan bisa terdiri dari satu ikan besar, satu potongan dari ikan yang sangat besar atau beberapa ikan ukuran sedang. Ikan yang kecil-kecil seperti di Jawa tidak dijual karena tidak laku di sini. Jika diperkirakan satu ikat ikan yang harganya Rp 10.000 ini beratnya bisa 2 sampai 3 kg. Harga yang sangat murah! Ikan-ikan yang pernah saya beli di Babo, Weriagar dan Tomu adalah ikan pari, ikan kakap merah, ikan kakap hitam dan ikan baubara, yang merupakan ikan-ikan mahal di Jawa. Cara para penduduk dan nelayan berjualan ikan adalah dengan menyuruh anak-anak mereka beredar mengelilingi kampung sambil memikul kayu yang penuh dengan ikatan ikan. Sungguh unik memang. Jika tidak sabar menunggu anak-anak ini lewat, kita bisa menunggu nelayan di jeti membawa hasil ikannya langsung dari laut. Menurut saya, seperti udang dan kepiting, ikan di teluk bintuni rasa dagingnya terasa lebih kenyal dan manis. Tampaknya kondisi perairan laut dan pencemarannya ikut mempengaruhi rasa ikan.

Ikan baubara, satu ikat Rp 10.000

Ikan baubara, satu ikat Rp 10.000

Berjualan ikan ala teluk bintuni

Berjualan ikan ala teluk bintuni

Hampir dua bulan sudah lidah saya dimanjakan dengan seafood favorit saya dengan harga yang terjangkau di tanah papua dan dalam kondisi paling segar. Saya merasa sangat beruntung *beneran*. Gara-gara petualangan teluk bintuni saya kali ini, saya jadi membandingkan harga ikan, udang dan kepiting di daerah lainnya juga. Saya berharap harga kepiting dan ikan bisa turun di tanah jawa! *EH*. Well, saya berharap saja sih, semoga di petualangan saya yang lain ke bagian lain dari negeri saya tercinta ini saya bisa menikmati sea food yang se-fresh dan seistimewa di sini. Amin 😀

Tinggalkan komentar

Filed under Keliling Indonesia, Travel Food and Fruit