Tag Archives: situs pubakala

Daftar dan lokasi candi serta situs di Yogyakarta dan sekitarnya ; A recommended list for temple and marginal site hopping

Hai, hai! Sebenarnya saya membuat daftar ini sudah lama, tapi ga pernah saya terbitkan. Saya simpan untuk diri saya sendiri saja. Mengapa? karena¬†hanya sekitar 30% saja candi dan situs-situs yang pernah saya kunjungi di Yogyakarta tercinta dan sekitarnya. 30% kalau buat saya terlalu sedikit ūüė¶ . Sekembalinya saya candi hopping dari Siem Reap, Kamboja, saya baru ngeh, masa saya udah bikin list candi hopping di negara orang, tapi yang dari kota asal sendiri malah saya simpan rapat-rapat sih? Siapa tahu list saya ini bisa membantu teman-teman lain untuk candi hopping di Yogyakarta dan sekitarnya supaya lebih mengenal sejarah masa lalu kita *cieeeh.

Referensi utama saya ketika candi hopping, selain berbagai website dari internet juga dari sebuah buku berjudul Situs-situs Marjinal/Sanctuaries Retrouves/Sites Out of Sights karangan M Rizky Sasono, Jean Pascal Elbaz dan Agung Kurniawan. Sesuai dengan judulnya, buku ini terdiri dari 3 bahasa, Indonesia, Perancis dan Inggris. Kalau mau membeli buku ini biasanya available di Institute Francais d’Indonesie di Sagan atau di Viavia cafe Prawirotaman.

img_20130111_085659

My ultimate candi reference ūüôā

Anyway, saking banyaknya candi dan situs di Jogja , saya yakin masih ada beberapa situs yang lewat dari list saya. Tetapi saya berusaha untuk mengupdate list saya , supaya nanti kalau saya ada waktu saya bisa menyambangi candi atau situs tersebut. Saya memfokuskan list saya kepada situs-situs yang didirikan selama abad pertengahan, tetapi ada pula beberapa situs megalitikum dan situs pada masa kerajaan Islam. Saya membagi listnya berdasarkan areanya.

A. Yogyakarta Timur dan sekitarnya 

1. Candi Sambisari

; Candi Hindu Sywa dari abad ke 8.

img_0885

Candi Sambisari di Kalasan, Sleman

 

2. Candi Kadisoka

 ; Candi Hindu dari abad ke 8.

3. Candi Sari

; Candi Buddha dari abad ke 8.

img_0964

Candi Sari yang terletak di JL Solo , Tirtomartani, Kalasan, Sleman

4. Candi Kalasan

; Candi Hindu dari abad ke 8.

img_1009

Candi Kalasan

5. Candi Kedulan

; Candi Hindu dari abad ke 8.

6. Arca bugisan

di desa Purwomartani, Kalasan, Sleman ; Arca Buddha

7. Candi Prambanan

; Candi Hindu terbesar dari abad ke 9 yang masuk di dalam Unesco Heritage Site. Kalau yang ini semua sudah tahu lah:) .

p1000088

Pas ngajak suami jalan-jalan ke Prambanan

8. Candi Lumbung

(Komplek candi Prambanan) ; Candi Buddha dari abad ke 9.

9. Candi Bubrah

(Komplek candi Prambanan) ; Candi Buddha dari abad ke 9.

10. Candi Sewu

(Komplek candi Prambanan) ; Candi Buddha dari abad ke 8.

p1000144

Komplek candi sewu atau yang juga disebut Manjusrighra

11. Candi Gana

; Candi Buddha dari abad ke 9.

12. Candi Plaosan Lor

(terletak tidak jauh dari Prambanan) ; Candi Buddha dari abad ke 9.

img_0978

Candi Plaosan, Prambanan, Klaten

13. Candi Plaosan Kidul

(terletak tidak jauh dari Prambanan) ; Candi Buddha dari abad ke 9.

14. Candi Asu

(terletak tidak jauh dari Prambanan)  ;

15. Candi Sojiwan

; Candi Buddha dari abad ke 9.

16. Komplek keraton Ratu Boko

; Situs keraton dari abad ke 8 yang terdaftar di dalam UNESCO heritage site.

100_1272

Sunset di Ratu Boko

17. Situs Watugudig

;

18. Candi Dawangsari

(Terletak tidak jauh dari candi Barong) ;

19. Candi Barong

; Candi Hindu dari abad ke 9.

3337_1147891375835_6446075_n

Sewaktu di candi Barong, saya dan teman-teman kebetulan bertemu dengan kawan-kawan Hindu yang sedang beribadah

20. Candi Banyunibo

; Candi Buddha dari abad ke 9.

21. Candi Miri

(Lokasi tidak jauh dari candi Banyunibo) ; Candi Hindu dari abad ke 9.

22. Candi Keblak

; Candi Hindu

23. Candi Ijo

; Candi Hindu dari abad ke 10.

img_6892

Komplek Candi Ijo

23. Arca Gupolo

; Situs arca Hindu.

Jpeg

Situs Arco Gupolo tak jauh dari candi Ijo

24. Candi Abang dan Goa Sentono

; Candi Hindu yang terbuat dari bata merah dari abad ke 9, yang kini tertutup rerumputan. Sedangkan goa sentono adalah situs batu yang berada di kaki bukit abang.

img_0766

Candi Abang

25. Candi Klodangan

; Candi dari abad ke 9, belum diketahui ciri khas bangunannya.

26. Candi Mantup

; Reruntuhan candi Hindu yang diperkirakan dari abad ke 8.

27. Candi Gampingan

; Candi Buddha dari abad ke 9 .

28. Situs Payak

; Situs Hindu dari abad ke 9.

29. Situs Watu Gilang

;

 

B. Gunung kidul dan sekitarnya.

Silahkan klik link berikut ini supaya lebih akurat. Selama saya tinggal di Jogja, saya hanya sempat mengunjungi candi gembirowati saja. Berdasarkan list dari postingan tersebut, ternyata di Gunung Kidul juga banyak situs bersejarahnya.

C. Yogyakarta Selatan

1. Situs Pleret dan museum sejarah purbakala Pleret

; Situs Mataram Islam

2. Situs Kerto

; situs dari kerajaan Mataram Islam

3. Candi Ki Ageng Mangir 

; situs lingga dan yoni yang letaknya tidak jauh dari petilasan Ki Ageng Mangir.

D. Yogyakarta Tengah

1. Situs Warungboto

; Situs yang dibangun oleh Hamengku Buwono II dari kerajaan Ngayogyakarto Hadiningrat

2. Taman Sari, sumur gemuling dan sekitarnya

; Nah selain Prambanan dan Ratu Boko, situs dari kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat ini adalah situs yang paling banyak dikunjungi oleh wisatawan.

p1000369

The famous Sumur Gemuling

3. Situs Kotagede

; berada menyebar di area kecamatan Kotagede yang terdiri dari komplek pemakaman, masjid, batu gilang dan bangunan-bangunan kuno lainnya.

 

E. Yogyakarta Barat

1. Penampungan benda cagar budaya Mlati, Sleman

; koleksi benda cagar budaya yang ditemukan di daerah Sleman barat . Lokasinya berada tak jauh dari Koramil kec Mlati.

2. Candi bedingin

; candi yang baru saja ditemukan pada tahun 2013 di dusun Bedingin, Mlati, Sleman.

3. Situs karangbajang

Tlogoadi ; Ditemukan di tahun 2015 dan masih diteliti

 

 

F. Kulon Progo dan sekitarnya

1. Candi Pringtali

; Candi yang diduga sebagai peninggalan kerajaan Majapahit.

2. Situs Tangkisan

;  situs yang masih dipertanyakan sejarahnya, berada di desa Tangkisan , Kokap.

3. Candi Wulan

; Situs yang konon merupakan peninggalan kerajaan Mataram Kuno dari abad ke 3, tetapi masih diteliti keberadaannya. Lokasinya di desa Banjaroyo, Kalibawang.

4. Situs Sambiroto

;

5. Situs Stupa Glagah

; Stupa Buddha yang ditemukan di dusun Glagah , Sidorejo .

6. Situs Botowiyat

; Sebuah prasasti yang masih diteliti keberadaannya. Berada di dusun Terbah, Wates.

7. Situs Jatiwangi

; Terletak di dusun Grubug, Jatisarono, Nanggulan.

 

G. Yogyakarta Utara dan sekitarnya

1. Candi Gebang

; Candi Hindu yang dibangun pada abad ke 8.

2. Candi Palgading

; Candi Buddha dari abad ke 8, yang baru ditemukan pada tahun 2006.

3. Candi Kimpulan

(komplek Universitas Islam Indonesia) ; Candi Hindu yang baru ditemukan pada tahun 2009 di dalam komplek UII .

6. Candi Morangan

; candi Hindu dari abad ke 9.

 

 

7 . Candi Losari

(terletak di perbatasan Yogya -Magelang) ; Candi yang ditemukan di tengah perkebunan salak pada tahun 2004. Merupakan candi Hindu yang masih diteliti oleh BPPP.

img_0583

Sewaktu ikut tim Bolbrutu ke candi Losari

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Keliling Indonesia

Mengenal si Flo, manusia purba dari Liang Bua

Situs Liang Bua

Situs Liang Bua

Beberapa teman satu tim penelitian saya sedang ditugaskan di desa Liang Bua, kecamatan Rahong Utara, Kabupaten Manggarai. Siang itu setelah menyelesaikan tugas di desa lain di kecamatan yang sama, saya dan salah seorang rekan saya menyusul mereka. Kami sengaja bertemu untuk mengunjungi sebuah gua yang merupakan situs arkeologi yang diakui dunia, namanya juga Liang Bua. Kami bermaksud untuk menjelajahinya bersama-sama. Sebelum masuk ke gua rekan-rekan yang bertugas di desa setempat bercerita bahwa mereka disambut dengan sangat baik dan ramah. Baik dan ramah memang ciri khas umum orang Manggarai. Yang membuat pertemuan mereka istimewa adalah, mereka sampai dijamu makan siang daging kelelawar! Nah jika sedang berada di desa Liang Bua dan dijamu dengan daging kelelawar konon berarti teman-teman saya dianggap tamu yang dihormati. Mereka mengaku memakan daging itu dan rasanya enak. Kalau itu terjadi kepada saya, entah bagaimana cara menolaknya, saya pasti akan sangat bingung. Saya tidak ingin membuat mereka tersinggung tetapi saya juga takut makan daging kelelawar.

Langit-langit Liang Bua

Langit-langit Liang Bua

Pintu gua Liang Bua yang saat itu dipagari besi kemudian dibukakan oleh petugas setempat. Liang Bua dalam bahasa Manggarai artinya lubang yang sejuk. Kami kemudian masuk ke dalam gua tersebut. Saat kami di sana tidak ada aktivitas penggalian yang sedang berlangsung. Gua karst yang telah terbentuk belasan juta tahun yang lalu ini tampak kosong, karena semua fossil dan penemuan-penemuannya telah dipindahkan ke berbagai museum. Ada yang dibawa sampai ke Leiden,Belanda untuk diteliti lebih jauh. Ada pula yang dibawa ke museum Sangiran Early Man Site di Jawa Tengah. Saya jadi teringat kunjungan saya ke Sangiran beberapa bulan yang lalu. Saya melihat sendiri tulang-tulang lengkap Homo floresiensis dipajang di sana. Homo floresiensis merupakan manusia purba yang memiliki bentuk fisik lebih kecil dari manusia purba yang lain. Homo florensiensis juga memiliki nama panggilan yang gaul, namanya Flo! Flo oleh arkeolog dan ilmuwan asing sering dijuluki sebagai the Hobbit.

Saya di dalam rumah sejuk bagi Flo

Saya di dalam rumah sejuk bagi Flo

Saya dan teman-teman setelah menjelajahi gua yang tampak seperti rumah purba yang nyaman ini kemudian beralih ke sebuah museum kecil tak jauh dari sana. Di dalam museum ini terdapat papan dan gambar-gambar penjelasan mengenai sejarah penggalian si Flo. Penggalian arkeologis di Liang Bua ternyata sudah berlangsung sejak sekitar tahun 1930. Sudah banyak arkeolog-arkeolog dunia dan Indonesia yang mengeksplorasi dan menemukan fossil di tempat ini. Tak hanya si Flo , ada pula fossil gajah purba, buaya purba dan tikus raksasa purba. Wiiih melihat keterangan dan gambar tikus raksasa di museum ini saya jadi merinding. Ada ya tikus sebesar ini jaman dulu?? Tikus yang kecil banget aja saya takut apa lagi tikus segedhe anjing?? Di museum ini juga terdapat satu tengkorak Flo yang dipajang di dalam kotak kaca. Yang jelas belajar tentang penemuan arkeologis di museum ini sangat menarik. Menurut pak penjaganya, malah lebih banyak turis asing dan masyarakat dari luar daerah yang tertarik untuk mengenal si Flo. Semoga saja yaa masyarakat Manggarai juga tertarik dengan penemuan-penemuan arkeologis di tanah warisan nenek moyang mereka sendiri.  Anyway sebenarnya ngomongin si Flo, Liang Bua dan penemuan fossil-fossil di sini memang tidak ada habisnya. Ada banyak referensi dari buku sampai situs internet yang memaparkannya lebih dalam. Ada beberapa koleksi buku dalam bahasa Inggris dan Belanda tetang Lian Bua yang dapat dibaca di museum ini.

Kerangka Flo yang dipajang di museum Liang Bua

Kerangka Flo yang dipajang di museum Liang Bua

Untuk menuju ke desa Liang Bua, paling mudah ditempuh dari kota Ruteng yang jaraknya sekitar 10 km. Sudah tersedia papan petunjuk arah dari kota Ruteng sampai ke lokasi. Sekembalinya saya dari Liang Bua saya jadi teringat tentang sebuah dusun atau kampung di sana yang orang-orangnya pendek-pendek yang diduga adalah keturunanya Flo. Saya membacanya dari majalah National Geographic. Sayang yah pas di sana saya malah lupa, kalau ingat kan sekalian juga mengunjungi kampung tersebut.
Lokasi Liang Bua di google map :

Tinggalkan komentar

Filed under Keliling Indonesia