Tag Archives: temple

Cerita dari Cambodia #12 : Bertandang ke Royal Palace dan Silver Pagoda di kota Phnom Penh

Phnom Penh, ibukota kerajaan Kamboja, tak hanya menawarkan wisata sejarah muram tentang kekejaman Khmer Merah. Salah satu tujuan utama para traveler ke kota ini tentu saja adalah mengunjungi istana raja. Istana yang menjadi pusat  kerajaan Kamboja setelah negara ini beralih kembali ke sistem monarki pada tahun 1993. Meskipun bentuk negara ini bukan monarki sepenuhnya, karena roda pemerintahan dipimpin oleh seorang perdana menteri. Setiap saya mengunjungi daerah-daerah di nusantara ataupun di luar negeri , dan daerah tersebut mempunyai istana kerajaan, sebisa mungkin saya meluangkan waktu untuk mengunjunginya. For me its kinda interesting to see a palace and imagine about the royal life there. Mungkin saya terpengaruh karena kebanyakan nonton film-film disney dan fairy tale :D. Tapi menjelajahi istana raja memang menyenangkan bukan? Ada banyak simbol budaya, seni dan kemewahan di dalam istana-istana ini.

tembok yang mengelilingo Royal Palace Phnom Penh

tembok yang mengelilingo Royal Palace Phnom Penh

Pagi itu saya dan suami saya berangkat pagi jam 9 dari rumah host kami di dekat aeon mall. Kami berjalan kaki sekitar 2,5 km ke istana yang lebih dikenal dengan sebutan royal palace ini.  Kami sampai di gerbang utama untuk kunjungan wisata jam 10 pagi. Kata host air bnb kami, istana ini sering tutup sehabis jam 12 siang walaupun jam tutup resmi yang tertera di berbagai situs informasi wisata adalah jam 5 sore. Entah mengapa, tetapi kata host kami juga kunjungan untuk masuk ke royal palace ini agak dibatasi sekarang. Mungkin karena istana ini memang masih aktif digunakan untuk berbagai macam agenda kerajaan. Pagi itu kami berpakaian sopan, supaya tidak harus menyewa sarung dan atasan. Kami mengenakan celana panjang dan kaos yang menutupi lengan. Tiket masuk ke istana ini adalah 6,5 $ per orang dan jika harus menyewa sarung atau atasan harganya 3$ untuk per helainya. Kami memutuskan menyewa guide untuk berkeliling istana sekaligus komplek silver pagoda. Tarifnya 10$ untuk satu jam. Selama di Kamboja, baru hari ini kami  menyewa guide. Bapak guide ini bernama pak Busoin. Ia kemudian membawa kami dari gedung ke gedung di dalam komplek istana.

komplek utama Royal Palace Phnom Penh

komplek utama Royal Palace Phnom Penh

Sebelum masuk ke gedung pertama pak Busoin menerangkan tentang sejarah berdirinya istana yang dibangun tahun 1866 oleh raja Norodom ini. Katanya sebelum pindah ke Phnom Penh pusat pemerintahan berada di kota Oudong , sekitar 45 km dari Phnom Penh. Sejak istana dan pusat kerajaan pindah, kota Phnom Penh menjadi semakin ramai dan tumbuh dengan pesat. Istana ini terletak di pinggir sungai Tonle Sap supaya aksesnya mudah jika keluarga kerajaan harus bepergian dengan perahu atau kapal kerajaan. Arsitek istana ini adalah 2 orang bangsawan bernama Neak Okhna Tep dan Nimith Mak. Pak guide kemudian mengajak kami masuk ke gedung  pertama yang dalam bahasa Khmer bernama Preah Tineang Tevea Vinichay. Dalam bahasa Inggris berarti The Throne Hall. Gedung ini berfungsi sebagai ruang utama raja ketika naik tahta dan untuk merayakan upacara kerajaan lainnya. Jika ada anggota keluarga raja yang menikah, juga akan dilaksanakan di gedung ini. Selain itu gedung ini juga digunakan untuk kegiatan diplomasi atau pertemuan resmi kerajaan. Pak Busoin kemudian menunjukkan beberapa tahta kursi raja yang ada di gedung ini. Kursi tahta utama yang berlapis emas hanya digunakan ketika seorang pangeran dilantik menjadi raja baru. Ruangan ini tampak sangat mewah dengan perabotan serta hiasan-hiasan berwarna emas dan perak di meja serta dinding dindingnya, lengkap dengan karpet-karpet beludru yang menutupi lantainya. Dan saya cuma bisa merasa wow menatap kemewahan dan keindahannya. Selama berada di ruangan ini pengunjung dilarang keras untuk mengambil foto dan video.

The Throne Hall

The Throne Hall

Di dalam komplek utama Royal Palace ini terdiri dari 7 gedung. Selain The Throne Hall, gedung lainnya adalah Chanchhaya Pavillion, Hor Samran Phirun, Hor Samrith Vimean, Phocani Pavilion,  Napoleon III Pavilion dan Preah Reach Damnak Chan. Di antara gedung-gedung ini terdapat taman-taman yang penuh dengan bunga dan tanaman-tanaman hias. Terlihat sangat asri dan tertata. Pak Busoin menerangkan satu-satu fungsi dan kegunaan gedung-gedung ini. Seperti Phocani Pavillion yang digunakan untuk aneka pertunjukkan kesenian kerajaan seperti tari klasik Khmer dan musik klasik Khmer, Preah Reach Damnak Chan yang berfungsi untuk kantor administrasi kerajaan dan Chanchhaya Pavillion yang digunakan untuk audiensi raja ketika bertemu dengan masyarakat luas. Pak guide tidak mengajak kami ke semua gedung tersebut karena memang tertutup untuk umum. Ia hanya mengajak kami untuk masuk ke Hor Samrith Vimean dan menengok Napoleon III pavilion yang sedang direnovasi. Hor Samrith Vimean berisi tentang kostum-kostum raja, bangsawan, pengawal dan dayang-dayang kerajaan. Setiap acara dan hari-hari tertentu para pengawal dan dayang-dayang kerajaan mengenakan baju yang berbeda-beda sesuai dengan fungsinya. Saya tertarik dengan kostum dayang-dayang kerajaan yang seperti celana tetapi sebenarnya adalah kain yang dililit-lilit. Boleh nih dicontoh :). Napoleon III pavilion adalah satu-satunya bangunan istana yang berbeda dengan arsitektur Perancis. Pavilion yang sedang direnovasi ini dulunya dibangun tahun 1876 untuk ratu Eugine of France. Bangunanya murni dari besi semua. Bangunan ini merupakan simbol persahabatan Kamboja – Perancis, meskipun negara Eropa inilah yang menjajah mereka sebelumnya. Di belakang komplek utama ini terdapat kediaman pribadi keluarga kerajaan yang aksesnya sangat tertutup.

Kediaman pribadi raja

Kediaman pribadi raja

Chanchhaya Pavilion

Chanchhaya Pavilion

Kami kemudian melangkah menuju komplek kuil dan pagoda kerajaan yang berada di sebelah selatan komplek utama royal palace. Sebelum memasuki komplek ini pak Busoin bertanya kepada kami, apakah pernah berkunjung ke grand palace yang ada di Bangkok atau belum? Saya menjawab sudah ke sana tahun lalu. Ia kemudian bercerita tentang perbedaan rakyat Cambodia menganggap rajanya dibandingkan dengan rakyat Thailand menganggap rajanya. Di Thailand raja seperti dewa yang sangat dihormati dan diagung-agungkan, sedangkan di Kamboja tidak. Meskipun demikian rakyat Kamboja sangat menyayangi rajanya. Pak Busoin bilang raja yang sekarang, Norodom Sihamoni adalah seorang beragama Buddha yang taat dan arif. Ia tidak menikah karena ingin fokus kepada rakyat dan Buddha. Saya kemudian teringat akan kunjungan saya ke Grand Palace Bangkok tahun lalu. Meskipun desain bangunan istana Thai dan Khmer terlihat mirip, istana royal palace Kamboja ini terkesan lebih humbble.

Silver Pagoda

Silver Pagoda

Pak Busoin mengajak kami masuk ke dalam bangunan Silver Pagoda atau Wat Preah Keo Morokat. Gedung ini adalah gedung utama kuil Buddha kerajaan. Desainnya begitu mewah, lebih mewah dari ruang tahta utama kerajaan. Pengunjung diperbolehkan masuk dan berkeliling di dalam, tetapi harus melepas alas kaki. Pengunjung juga sangat dilarang untuk memotret atau mengambil video ruangan ini.  Disebut Silver Pagoda karena lantai bangunanya terbuat dari perak asli. Wow! rasanya gimana gitu mengijak-ijak perak. Di kuil ini terdapat banyak benda-benda berharga dan bersejarah kerajaan yang dijejer-jejer di rak berlapis kuningan. Benda yang paling menakjubkan di ruangan ini adalah sebuah patung Buddha yang asli terbuat dari batu zamrud dan sebuah patung Buddha Maitreya yang terbuat dari emas seberat 90kg yang juga dilapisi berlian. Buset! Saya cuma bisa menatap patung ini dengan deg-degan. Baru kali ini saya melihat benda yang begitu mahal. Penggagas patung ini adalah raja Sisowath dari abad ke 19.

Komplek kuil kerajaan dan stupa-stupa

Komplek kuil kerajaan dan stupa-stupa

Di sekitar Silver Pagoda terdapat stupa-stupa tempat menyimpan abu raja-raja dan keluarga kerjaan yang telah wafat. Di komplek ini juga terdapat bangunan Mondapa Satra & Tripitaka, sebuah perpustakaan kuil kerjaan yang menyimpan koleksi kitab suci Buddha serta patung-patung Buddha yang bersejarah. Komplek ini dikelilingi tembok yang dilukis dengan cerita ramayana. Eh kok ada cerita mitologi Hindhu di kuil Buddha kerajaan? Pak Busoin bilang, sejarah kerajaan ini tak hanya dibentuk oleh agama Buddha saja, tetapi Hindhu juga. Ia juga bilang bahwa sinkritisme antara Buddha dan Hindhu masih ditemui di praktek ibadah masyarakat umum. Beberapa bhiksu kerajaan kemudian melintas di depan kami, mereka berkumpul di ruang yang disebut Dhammasala untuk membaca kitab suci bersama-sama.

Ibu-ibu yang menenun kain tradisional Khmer

Ibu-ibu yang menenun kain tradisional Khmer

Pak Busoin kemudian pamit kepada kami siang itu, karena sudah satu jam menemani kami. Kami lalu berjalan-jalan sendiri di sisa-sisa ruangan yang ada di komplek ini. Ternyata di sebelah selatan komplek kuil kerajaan masih terdapat beberapa bangunan museum yang berisi tentang silsilah kerjaan dan foto-foto naik tahta raja terakhir. Di dekat komplek museum ini juga terdapat rumah adat panggung Khmer yang isinya masih sangat tradisional. Ada seorang ibu-ibu mengerjakan kain tenun di bawahnya. Jam 12 tepat ternyata komplek istana akan ditutup dan kami diharuskan keluar. Beberapa jam kemudian kami melintas lagi di depan komplek istana ini dan istana ini masih tutup untuk pengunjung. Beberapa turis asing tampak mondar-mandir bingung di depannya. Untung saja kami memutuskan untuk ke Royal Palace pagi-pagi, kalau tidak kesempatan untuk bertandang ke istana ini hilang akibat limited visiting hours :D.

Di dalam rumah tradisional Khmer

Di dalam rumah tradisional Khmer

Museum yang bercerita tentang raja terakhir upacara naik tahta raja terakhir

Museum yang bercerita tentang raja terakhir upacara naik tahta raja terakhir

13 Komentar

Filed under Ke Luar Negeri

Cerita dari Cambodia #5 : Temple hopping hari ke dua di Siem Reap

Hari ke dua temple hopping di Siem Reap, pak Sela supir tuktuk kami berhasil meyakinkan kami untuk bangun pagi-pagi demi sunrise di Angkor Wat. Saya dan suami saya sudah menduga, pasti bakalan ramai banget. Jam 5 pagi, para wisatawan sudah berbondong-bondong masuk ke dalam komplek Angkor Wat. Saya dan suami saya memilih untuk melihat sunrise di tepi kanal di depan gerbang Angkor Wat. Kami mencari tempat duduk yang kebetulan pagi itu tak banyak orang. Saking gelapnya, saya tersandung dan terjatuh. Gara-gara tersandungnya agak parah kaki saya jadi pincang sebelah. Rasanya pengen cepet-cepet ke tukang pijet salah urat, tapi di Siem reap di mana? Walhasil temple hopping hari itu saya jalani dengan kaki pincang. Untung saja suami saya tercinta dengan sabar menuntun saya seharian itu. Untuk temple hopping hari ke dua ini kami tidak mau ngoyo harus mendatangi ke banyak candi seperti hari pertama dengan total 13 candi. Hari ke dua ini kami agak santai. Temple hopping hari ke dua ini tarifnya lebih mahal yaitu 18 $ dari pagi sampai sore, karena rutenya lebih jauh.

Sunrise di Angkor Wat

Sunrise di Angkor Wat

Sunrise di depan Angkor Wat pagi itu terlihat cantik meskipun berawan. Dengan semburat kemerahan muncul di balik bangunan Angkor Wat nan megah. Refleksinya terlihat indah sekali di permukaan air kanal. Beberapa wisatawan terlihat sengaja membawa bekal sarapan pagi sambil melihat panorama sunrise. Kami yang tak membawa apapun hanya bisa melihat sambil ngiler. Akhirnya daripada menahan lapar, sehabis matahari terbit dengan sempurna kami meminta pak Sela untuk membawa kami ke warung makan. Kami dibawa kembali lagi masuk Angkor Thom, ada banyak warung makan dengan harga sekitar 3 $ di depan komplek candi Preah Pithu. Selesai sarapan mumpung di belakang warung-warung ini banyak candi , kami memulai temple hopping hari itu dari sana.
  1. Preah Pithu (Angkor Thom). Komplek yang terdiri dari 5 candi ini kesannya hanya seperti candi-candi abandoned di belakang warung makan dan warung souvenir. Mungkin karena saking banyaknya candi , banyak juga candi-candi yang kurang terawat dan sepi pengunjung seperti candi ini. Candi yang dibangun pada awal abad ke 12 oleh Suryawarman II ini terdiri dari 4 candi Hindhu dan 1 candi Buddha. Candi Buddha di Preah Pithu ini kemungkinan menjadi yang terakhir dibangun. Preah Pithu dikelilingi pepohonan besar yang lebat, oleh karena itu candi ini terlihat lembab dan berlumut. Kami hanya berjalan sejenak mengitarinya lalu kembali lagi ke tuktuk.

    Reruntuhan candi Preah Pithu

    Reruntuhan candi Preah Pithu

  2. Preah Khan. Pak Sela kemudian membawa kami keluar komplek Angkor Thom ke arah utara menuju ke candi Preah Khan. Salah satu komplek candi yang luas dan besar. Komplek ini juga dikelilingi kanal yang tampak mistis. Candi Preah Khan juga dibangun oleh raja Jayawarman VII pada akhir abad ke 12. Kalau Ta Prohm dipersembahkan untuk ibunda raja, candi ini dipersembahkan untuk ayahandanya. Dalam bahasa Khmer Preah Khan berarti sacred sword atau pedang suci. Candi Buddha ini dahulunya juga merupakan tempat untuk belajar agama, perpustakaan dan tempat penyimpanan harta. Seperti halnya di Ta Prohm, candi ini dikelilingi hutan lebat dan banyak pepohonan tumbuh di sela-sela dindingnya. Menurut catatan di Siem Reap visitor guide, pada masa Jayawarman VIII yang beragama Hindhu menjadi raja, simbol Buddha di candi ini banyak yang dirusak. Sebuah relief naga dengan sengaja ditumpuk dengan relief  garuda besar  pada masa Jayawarman VIII sebagai simbol anti Buddha. Duh! ternyata pada jaman itu ada sentimen antar agama juga ya? Saya pikir dengan adanya candi Buddha dan candi Hindhu berdampingan seperti ini mereka pada masa itu damai-damai saja. Kami berada cukup lama di komplek candi ini karena areanya lumayan luas. Kami menjelajahi candi ini dari ruangan ke ruangan. Tampak beberapa koridor terlihat kurang terawat dan hampir ambruk. Candi ini mempunya banyak relief cantik di dinding-dindingnya. Di sebuah ruangan candi terdapat stupa Buddha yang kalau difoto ujung stupanya selalu terkena cahaya matahari. Tidak percaya? coba saja 🙂 . Kami kemudian sampai di sebuah bangunan bertingkat dua yang agak bergaya Yunani dengan tiang bulat-bulat. Fungsi bangunan tersebut belum diketahui sampai sekarang.Kami kemudian berjalan ke menembus hutan sampai di gapura timur candi ini. Yang menarik adalah di timur gapura terdapat danau buatan bernama Jayatataka yang terlihat sangat indah dengan tanaman lotusnya. Candi Preah Khan pagi itu termasuk sepi pengunjung, sangat berbeda dengan candi Ta Prohm yang pengunjungnya berjubel. Preah Khan adalah candi favorit kami selama temple hopping ini.
    Suasana pagi hari di gerbang Preah Khan

    Suasana pagi hari di gerbang Preah Khan

    Kanal yang tampak mistis di Preah Khan

    Kanal yang tampak mistis di Preah Khan

    Kami di depan gapura Preah Khan

    Kami di depan gapura Preah Khan

    Stupa Buddha yang selalu terkena cahaya matahari di puncaknya

    Stupa Buddha yang selalu terkena cahaya matahari di puncaknya

    Bangunan bertingkat dengan pilar-pilar di Preah Khan

    Bangunan bertingkat dengan pilar-pilar di Preah Khan

    Sisi timur Preah Khan nan indah

    Sisi timur Preah Khan nan indah

    Foto romantis di atas danau Jayatataka

    Foto romantis di atas danau Jayatataka

  3. Neak Pean. Danau buatan di timur Preah Khan ini ternyata mempunyai pulau buatan dengan candi di tengahnya. Untuk menuju ke sini lumayan jauh, sekitar 2,3 km jika harus berjalan kaki, jadi kami melanjutkan dengan tuktuk sampai ke sini. Pulau dan danau buatan serta candinya ternyata juga dibangun oleh raja Jayawarman VII sebagai candi pendamping untuk Preah Khan. Candi Neak Pean dalam bahasa Khmer berarti jalinan ular. Candi ini didirikan di tengah kolam yang hanya ada airnya di saat musim penghujan. Untuk menuju ke pulau buatan ini terdapat jalan setapak dari papan yang terlihat cantik ketika difoto :). Tanaman lotus dengan bunga indah besar-besar tersebar di danau ini, membuat para pengunjung sibuk mengambil fotonya :D.
    Walkway menuju pulau buatan

    Walkway menuju pulau buatan

    Neak pean candi di atas kolam di tengah pulau buatan yang danaunya juga buatan :)

    Neak pean candi di atas kolam di tengah pulau buatan yang danaunya juga buatan 🙂

  4. Ta Som . Sekitar 2,7 km ke arah timur candi Neak Pean terdapat candi yang bernama Ta Som. Ta Som juga dibangun oleh raja Jayawarman VII untuk ayahnya Dharanindrawarman II pada akhir abad ke 12. Gaya bangunan candi Buddha ini hampir sama dengan Preah Khan dan Ta Prohm tetapi bentuknya lebih kecil. Di dinding candi ini terdapat banyak relief yang menggambarkan para dewata. Beberapa bagian dinding candi ini juga ditumbuhi pohon besar, salah satunya terdapat di gapura bagian timur. Kami hanya mengelilingi bagian luar candi yang dikelilingi dinding benteng ini, lalu kembali lagi ke tuktuk.

    Komplek candi Ta Som

    Komplek candi Ta Som

    Relief di candi Ta Som, mirip ukiran Bali?

    Relief di candi Ta Som, mirip ukiran Bali?

  5. East Mebon. Tuktuk yang kami sewa kemudian membawa kami ke candi ke 5 hari itu yang berada 2,5 ke arah selatan dari Ta Som. Berbeda dengan candi-candi sebelumnya yang terbuat dari batu hitam, candi East Mebon ini terbuat dari campuran batu dan bata merah. Bentuknya menggunung, bertingkat dan mengerucut ke atas. Candi ini adalah candi Hindhu Siwa yang dibangun pada abad ke 10 oleh raja Rajendrawarman II untuk ke dua orang tuanya. Candi ini dibangun sesaat setelah ia memindahkan ibukota kerajaan Khmer dari Koh Ker kembali ke Angkor. Saya dan suami saya terpesona dengan bangunan candi ini. Mungkin karena di Indonesia kami belum pernah berkunjung ke candi yang terbuat dari batu merah dengan desain yang megah. Di sudut-sudut candi ini terdapat patung-patung gajah yang menghadap ke luar. Karena kaki saya masih sakit untuk berjalan kami beristirahat cukup lama di atas rumput-rumput sambil menikmati bangunan candi ini.

    Selamat datang di East Mebon

    Selamat datang di East Mebon

    3 stupa Hindhu di puncak East Mebon

    3 stupa Hindhu di puncak East Mebon

    Salah satu patung gajah di East Mebon

    Salah satu patung gajah di East Mebon

  6. Prae Roup. Hanya 2 km ke arah selatan East Mebon terdapat bangunan candi dengan gaya yang sama namun terlihat lebih besar dan megah. Candi Prae Roup juga dibangun oleh raja Rajendrawarman II di akhir abad ke 10. Candi Hindhu ini juga dibangun sebagai persembahan untuk dewa Siwa. tetapi selain patung dewa Siwa di candi ini juga terdapat patung dewa Wisnu, dewi Lakhsmi dan dewi Uma. Prae Rup juga terbuat dari tumpukan batu bata merah dengan campuran batu hitam sebagai gapura dan pintu gerbang. Terdapat 4 tangga utama dari ke empat sisi candi untuk menuju ke puncaknya. Konon katanya candi ini dulunya difungsikan sebagai ashram untuk belajar agama Hindhu. Candi ini dikelilingi kanal tetapi hanya di ketiga sisinya saja. Prae Rup merupakan candi terakhir candi hopping kami hari itu. Total candi yang kami kunjungi di Siem Reap adalah 19 candi dari 49 candi. Wuiih masih banyak yang belum dikunjungi ternyata :D. Kapan lagi dunk?

    Komplek candi Pre Rup nan megah

    Komplek candi Pre Rup nan megah

    Tangga menuju puncak stupa candi Pre Rup

    Tangga menuju puncak stupa candi Pre Rup

Tinggalkan komentar

Filed under Ke Luar Negeri