Tag Archives: temple

Cerita dari Cambodia #4 : Temple hopping hari pertama di Siem Reap

Setelah setengah hari kami habiskan untuk mengunjungi Angkor Wat dan Prasat Bayon, temple hopping dengan tuktuk pun berlanjut. Pak Sela, supir tuktuk kami menunggu dengan setia di bawah pohon di sebuah sudut lapangan di komplek Angkor Thom. Kami hanya tinggal jalan kaki dari candi ke candi di Angkor Thom karena jaraknya dekat-dekat. Selepas Angkor Thom, kami menggunakan tuktuk dari candi ke candi. Kami pasrah saja kepada pak Sela akan membawa kami ke candi yang mana saja. Special request kami hari itu hanya ke candi Tomb Raider yaitu Ta Prohm. Karena saya bingung postingan ini bentuknya seperti apa, lebih baik saya membuat list candi-candi yang kami kunjungi hari itu termasuk Angkor Wat dan Prasat Bayon.

  1. Angkor Wat
  2. Prasat Bayon (Angkor Thom)
  3. Baphuon (Angkor Thom) . Candi Baphuon letaknya hanya 10 menit jalan kaki dari candi Bayon ke arah utara. Candi Hindhu ini dibangun oleh raja Udayadityawarman II pada abad ke 11. Candi bertingkat 3 ini merupakan candi yang bentuknya seperti gunung di komplek Angkor Thom. Baphuon memiliki walkway yang panjang dari gapura sampai ke bangunan utama. Seperti catwalk yang panjang :).  Putri-putri kerajaan Khmer jaman dahulu kala pasti suka berjalan di sini. Kami menyusuri catwalk, eh, walkway ini dari ujung ke ujung. Tak seperti di candi Bayon, Baphuon relatif sepi dari pengunjung. Kami dengan leluasa menjelajahinya dari tingkat ke tingkat. Candi ini memiliki koridor keliling yang berada di tingkat 2. Di tingkat paling atas terdapat sebuah bangunan menyerupai piramid. Bentuk bangunan yang banyak dipakai oleh kerajaan-kerajaan jaman dahulu. Candi Baphuon terbuat dari campuran batu hitam dan batu merah. Ketika kami turun ke bawah melalui sisi barat candi, kami melihat jajaran bebatuan hitam yang tersusun tidak rata, malah tampak membulat menyerupai wajah manusia. Kami berhenti sejenak memandangi tumpukan batu aneh tersebut sambil menebak-nebak. Waktu itu kami tidak sadar kalau jajaran batu tersebut adalah Buddha tidur raksasa yang dibangun pada abad ke 16. Salah satu keunikan candi Baphuon. Yah ga diambil deh fotonya. Maklum buku panduan kami waktu itu terkubur di dalam backpack jadi kami clueless :D.
    Walk way panjang di candi Baphuon

    Walk way panjang di candi Baphuon

    Candi Baphuon nan cantik

    Candi Baphuon nan cantik

    Bangunan utama candi Baphuon

    Bangunan utama candi Baphuon

    Bangunan seperti piramida di puncak candi Baphuon

    Bangunan seperti piramida di puncak candi Baphuon

  4. Phimeanakas (Angkor Thom) . Dari Baphuon kami berjalan kaki ke arah utara membelah hutan menuju candi Phimeanakas. Candi ini dibangun di akhir abad ke 10 oleh raja Jayawarman V. Candi ini juga merupakan candi Hindhu berbentuk pyramid yang bentuknya lebih kecil dari candi Baphuon. Konon katanya candi pribadi raja ini pada jaman dahulu merupakan candi cantik dengan tower yang terbuat dari emas. Candi ini juga terbuat dari campuran batu hitam dan batu merah. Biasanya para pengunjung dan wisatawan hanya mengamati candi ini sekilas saja atau sambil lewat. Candi yang dikelilingi pepohonan hijau ini merupakan tempat yang sempurna untuk kami berdua beristirahat. Duduk-duduk sambil mengelus kaki kami yang pegal sambil memandangi candi di bawah pohon :). Di utara candi ini masih ada 2 candi kecil yaitu Prasat Preah Palilay dan Tep Pranam. Karena perut kami sudah keroncongan, kami memutuskan untuk tidak mengunjunginya dan kembali ke tuktuk.

    candi Phimeanakas

    candi Phimeanakas

  5. Elephants Terrace & Lepper King Terrace (Angkor Thom). Membujur di gerbang candi Phimeanakas terdapat sebuah teras yang terkenal dengan sebutan Elephants terrace. Disebut demikian karena patung-patung dan ornamen reliefnya berbentuk gajah. Gajah merupakan kendaraan utama kerajaan dan hewan yang dihormati pada jaman dahulu kala. Teras gajah ini dibangun oleh raja Jayawarman VII pada akhir abad ke 12. Di sebelah utara teras ini terdapat Lepper King Terrace yang juga dibangun oleh Jayawarman VII di akhir abad ke 12. Dinding Lepper King Terrace penuh dengan relief yang merupakan simbol dari para setan, naga dan makhluk-makhluk mitologi lainnya. Kami berjalan kaki di teras yang panjang ini sampai ke ujung yang tampak seperti labirin panjang. Di luar teras ini ada banyak warung makan berjejer-jejer, tetapi harganya mahal yaitu sekitar 3 $ ke atas.
    Pemandangan dari Elephant Terrace

    Pemandangan dari Elephant Terrace

    Relief makhluk-makhluk mitologi di Lepper King terrace

    Relief makhluk-makhluk mitologi di Lepper King terrace

  6. Chau Say Tevoda. Dari komplek Angkor Thom, pak Sela membawa kami keluar melewati gerbang timur. Tuktuk kami lalu berhenti di 2 candi kecil yang berseberangan. Candi pertama adalah Chau Say Tevoda yang dibangun pada awal abad ke 12 oleh raja Suryawarman II. Meskipun candi yang terbuat daru batu hitam ini merupakan candi Hindhu, relief-relief yang terukir di dindingnya tak hanya bertema Hindhu, tapi juga bertema Buddha. Sebuah lambang bahwa ke dua agama ini tampak rukun di masa itu.

    Candi Chau Say Tevoda

    Candi Chau Say Tevoda

  7. Thommanon. Candi ke dua yang terletak di seberang Chau Say Tevoda adalah candi Thommanon. Candi Hindhu ini tampak sangat terawat karena kegiatan restorasinya berjalan dengan baik sejak tahun 1960. Thommanon dibangun pada akhir abad ke 11 oleh Suryawarman II  di masa yang sama dengan Angkor Wat. Dari dua candi ini kami kembali Candi hopping dengan tuktuk.

    candi Thommanon

    candi Thommanon

  8. Spean Thma. Nah sambil lewat , tak jauh dari Chau Say Tevoda dan Thommanon terdapat tumpukan batu yang bercampur dengan akar-akar pohon. Bangunan ini merupakan jembatan batu kuno peninggalan kerjaan Angkor. Kami berhenti sejenak hanya untuk mengambil gambar dari atas tuktuk.

    Kontruksi jembatan kuno Spean Thma

    Kontruksi jembatan kuno Spean Thma

  9. Ta Keo. Candi Ta Keo merupakan salah satu candi besar yang dibangun pada abad ke 10 oleh raja Jayawarman V. Candi ini merupakan candi Hindhu yang dipersembahkan untuk dewa Siwa. Pada jaman dahulu kala di puncak candi yang berbentuk seperti piramid ini terdapat sebuah ornamen emas besar. Berhubung hari itu candi Ta Keo sedang direnovasi besar-besaran kami hanya bisa melihatnya dari luar.

    Candi Ta Keo

    Candi Ta Keo

  10. Ta Prohm. Setelah beberapa penjelajahan candi kecil yang tak banyak pengunjung, kami kembali lagi ke candi yang penuh dengan wisatawan. Selain Angkor Wat dan Bayon, Ta Prohm adalah candi ke tiga yang diminati para pengunjung. Ta Prohm terletak 7 km dari Angkor Wat dan 4,6 km dari candi Bayon. Untuk sampai ke komplek candi kami harus berjalan kaki membelah hutan dari pemberhentian tuktuk. Candi besar ini menjadi sangat terkenal karena film Tomb Raider yang diperankan oleh Angelina Jolie. Ta Phrom juga dikenal sebagai temple jungle karena banyaknya pohon liar yang tumbuh di antara dinding-dindingnya. Candi Buddha ini dibangun pada pertengahan abad ke 12 sampai awal abad ke 13 oleh raja Jayawarman VII. Ia mempersembahkan candi ini untuk ibundanya tercinta. Candi ini dulunya difungsikan sebagai kuil, asrama dan pusat ajaran Buddha. Selain itu candi ini dulunya juga dijadikan tempat untuk menyimpan emas dan perhiasan. Ada dua rute untuk mengelilingi candi ini, yaitu rute panjang dan rute pendek. Karena sedang semangat 45, kami menjalani ke dua rute tersebut. Candi yang dikerumuni pohon-pohon besar ini tampak gelap dan berlumut, menambah kesan kunonya jadi semakin terasa. Saking banyaknya wisatawan, untuk berfoto di spot-spot dinding yang ditumbuhi akar, pengunjung harus mengantri satu-satu 🙂 . Untung saja salah satu spot foto tempat adegan utama Tomb Raider malah sepi pengunjung, jadi kami dengan leluasa berfoto di sana 🙂 .
    Bagian depan candi Ta Prohm

    Bagian depan candi Ta Prohm

    Akar-akar pohon yang menggerogoti bangunan candi

    Akar-akar pohon yang menggerogoti bangunan candi

    Foto dulu sebelum banyak yang antri :)

    Foto dulu sebelum banyak yang antri 🙂

    Salah satu tempat adegan film Tomb Raider

    Salah satu tempat adegan film Tomb Raider

    Ini lho, cuplikan Lara Croft sedang berkelana di Ta Phrom :

  11. Banteay Kdei. Tak jauh dari Ta Prohm terdapat sebuah candi besar yang gaya bangunannya hampir sama yaitu Banteay Kdei. Tak seperti Ta Prohm, pengunjung candi ini hanya sedikit. Sedikit sekali. Tampaknya kebanyakan turis memang hanya mengunjungi candi-candi yang terkenal saja. Banteay Kdei juga dibangun oleh Jayawarman VII pada akhir abad ke 12. Candi ini dulunya juga difungsikan sebagai kuil dan asrama Buddha. Candi ini juga tampak gelap dan berlumut karena dikelilingi pohon-pohon besar. Seperti di Ta Prohm , beberapa bagian dinding candi di sini juga di tumbuhi akar-akar pohon. Beberapa traveler tampak dengan tenang duduk-duduk sambil beristirahat menikmati sepinya candi ini. Karena kaki saya sudah sangat pegal, kami menelusuri candi ini dari sisi selatan saja.
    Candi Banteay Kdei

    Candi Banteay Kdei

    Bagian tengah candi Banteay Kdei nan panjang

    Bagian tengah candi Banteay Kdei nan panjang

    Altar Buddha di Banteay Kdei

    Altar Buddha di Banteay Kdei

  12. Srah Srang. Begitu keluar gapura candi Banteay Kdei di sebelah timur, terdapat sebuah candi kecil dan danau buatan yang bernama Srah Srang. Danau ini dibangun oleh pada pertengahan abad ke 10, lalu diteruskan pembangunannya oleh raja Jayawarman VII pada abad ke 12. Saat kami ke sini, candi di pinggir danau ini sedang direnovasi. Menurut majalah Siem Reap visitor guide, sunrise di danau ini sangat indah. Salah satu spot sunrise terbaik selain di Angkor Wat.

    Srah srang yang sedang direnovasi

    Srah srang yang sedang direnovasi

  13. Prasat Kravan. Jarum jam di tangan saya menunjukkan waktu jam 5 sore. Kaki saya sudah pegel-pegel ga karuan. Ga kebayang deh kalau nekad sewa sepeda, apa kami bisa bertahan? Kalau hanya mengunjungi bebebrapa candi saja saya kira sih bisa. Kami kembali naik ke tuktuk dari Srah Srang. Pak Sela kemudian membawa kami ke candi terakhir di hari pertama yaitu Prasat Kravan. Berbeda dengan candi-candi sebelumnya yang terbuat dari batu hitam dan campuran batu merah, candi ini murni terbuat dari batu bata merah. Candi kecil ini dibangun pada awal abad ke 10 oleh  Harshawarman I. Seorang bangsawan pada jaman itu. Merupakan candi Hindhu yang dipersembahkan untuk dewa Wisnu. Di candi ini terdapat relief-relief tentang dewa Wisnu dan dewi Lakhsmi.
    Candi Prasat Kravan

    Candi Prasat Kravan

    So? di hari pertama saja kami mengunjungi 13 candi sekaligus. Terlalu hopping banget ga sih?

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Ke Luar Negeri

Cerita dari Cambodia #3 : Bayon

Lewat tengah hari di komplek candi-candi Angkor, saya dan suami saya meninggalkan Angkor Wat membelah hutan ke utara sejauh 3,6 km dengan tuktuk menuju ke Angkor Thom. Angkor Thom dalam bahasa Khmer berarti great city. Komplek Angkor Thom jauh lebih luas daripada Angkor Wat. Luasnya mencapai 9 km persegi. Seperti di Angkor Wat, Angkor Thom juga dikelilingi kanal dengan 4 akses pintu gerbang dengan jembatan dan gapura yang terlihat sangat epic dan megah. Bagaikan gerbang masuk ke kerajaan antah berantah dalam dunia persilatan :). Ada 4 wajah besar yang terukir di masing-masing pintu gerbang. Karena siang itu pengunjung sedang banyak-banyaknya, maka tuktuk kami harus mengantri untuk masuk ke dalam gerbang. Pak Sela, sopir tuktuk kami meminta kami turun supaya kami bisa mengambil foto dari jembatan dan dari atas gerbang. Jembatan dan gerbang masuk Angkor Thom ini desain dan gayanya seperti candi Bayon. Candi pertama yang akan kami sambangi di komplek Angkor Thom. Salah satu candi yang ingin sekali saya datangi di dunia ini :).

kanal yang mengelilingi Angkor Thom

Kanal yang mengelilingi Angkor Thom

Gerbang selatan komplek Angkor Thom

Gerbang selatan komplek Angkor Thom

jembatan dan kanal di Angkor Thom

Jembatan dan kanal di Angkor Thom

Pak Sela, supir tuktuk kami kemudian menurunkan kami di depan candi Bayon yang siang itu ramai pengunjung. Selain Angkor Wat, Bayon merupakan destinasi utama ke 2 para turis di komplek candi-candi Angkor. Prasat Bayon letaknya pas ditengah-tengah komplek Angkor Thom. Usia candi ini lebih muda daripada Angkor Wat, dibangun di akhir Dinasti Khmer pada abad ke 12 oleh raja Jayawarman VII. Seorang raja yang terkenal suka membangun candi di jamannya. Prasat Bayon merupakan candi Buddha yang terbuat dari batu hitam seperti di candi Borobudur. Saya jadi penasaran, darimana ya mereka mendapatkan batu hitam sebanyak ini ya? Di wilayah Cambodia kan tidak ada gunung berapi. Hanya ada satu danau vulkanik saja. Jangan-jangan mereka mengimportnya dari kerajaan lain? Begitu masuk ke Prasat Bayon, kami disambut oleh 200 wajah besar tersenyum yang diukir di menara-menara candi. Pahatan wajah-wajah inilah yang membuat Prasat Bayon unik dan berbeda dari candi-candi yang lain. Menurut buku Ancient Angkor, pahatan wajah-wajah ini adalah Lokesvara atau Avalokitesvara yang merupakan gambaran dari sifat welas asih sang Buddha. Salah satu simbol dari Buddha aliran Mahayana.

Prasat Bayon, Angkor Thom

Prasat Bayon, Angkor Thom

Prasat Bayon tampak dari depan

Prasat Bayon tampak dari depan

Wajah Lokesvara di candi Bayon

Wajah Lokesvara di candi Bayon

Kami mengelilingi candi ini dari sudut ke sudut. Meskipun terbuat dari batu-batu keras dan berat, para pembangunnya berhasil membuat koridor-koridor dan ruangan-ruangan di dalamnya. Bahkan terdapat pula beberapa ruangan yang mempunyai lubang ke bawah tanah. Hmm tempat apakah ini? Penuh misteri! Jangan-jangan ada ruangan bawah tanah yang dirahasiakan 🙂 . Entah bagaimana caranya, konstruksi candi ini seperti menyusun puzzle dari batu-batu. Sungguh menakjubkan! Manusia jaman sekarang belum tentu bisa menyamai konstruksi bangunan yang seperti ini. Apakah mereka mendapatkan bantuan dari alien? Tampaknya saya sudah kebanyakan nonton acara ancient alien 😀 . Selain konstruksinya yang terlihat rumit, di candi ini juga terdapat relief-relief yang terukir di dinding-dinding batu. Relief-relief ini menggambarkan cerita dari mitologi-mitologi Hindhu. Mengapa di candi Mahayana Buddha ada relief Hindhu? Karena setelah raja Jayawarman VII wafat, yang meneruskan pembangunannya adalah Jayawarman VIII yang bergama Hindhu. Di dalam beberapa ruangan di candi Bayon ini terdapat batu lingga dan yoni, lambang kesuburuan manusia, seperti di candi-candi yang ada di Indonesia.  Di sudut-sudut ruangan lain terdapat patung-patung Buddha yang masih aktif sebagai tempat beribadah.

Relief di dinding candi Bayon

Relief di dinding candi Bayon

Salah satu lorong di dalam candi Bayon

Salah satu lorong di dalam candi Bayon

Lingga dan yoni di candi Bayon

Lingga dan yoni di candi Bayon

Setelah menyusuri ruangan-ruangan di dalam candi Bayon, kami menyusuri bagian-bagian lain yang terbuka. Terdapat 37 menara di candi ini. Menara utama terletak di tengah-tengah dengan tinggi sekitar 43 meter. Di menara utama ini terdapat beberapa ruangan bertingkat dengan ukiran 4 wajah Lokesvara di ujung paling atas. Kami lalu mengelilingi beberapa teras terbuka yang ada di candi ini sambil mengambil gambar untuk kenang-kenangan sebagai tanda misi saya datang ke candi ini telah terpenuhi 🙂 .Semakin siang ternyata semakin banyak pengunjung di candi Bayon. Setelah puas berkeliling Prasat Bayon kami lalu melanjutkan candi hopping di Angkor Thom dengan berjalan kaki. Saya yakin masih banyak candi-candi lain yang juga keren, megah dan mempesona untuk dikunjungi di Siem Reap hari itu.

Menuju ke teras atas candi Bayon

Menuju ke teras atas candi Bayon

Teras atas candi Bayon

Teras atas candi Bayon

Menara utama Prasat Bayon

Menara utama Prasat Bayon

1 Komentar

Filed under Ke Luar Negeri