Tag Archives: trekking

Ternyata Luxembourg kece juga! #4 : A day trip to Vianden

Hari itu kami bangun pagi-pagi sekali. Mentari pagi menyambut kami dengan cantiknya di halaman hotel tempat kami menginap. Sepertinya hotel yang kami inapi ini sangat cocok untuk memandang indahnya sunrise. We’re so lucky then! Gudde Moien Luxembourg! Please be nice to us today 😉 . Kami melahap sarapan all you can eat dengan gembira. Pasalnya kami jarang-jarang buking hotel yang sarapannya all you can eat seperti di Indonesia 😀 . Kami makan agak banyak pagi itu supaya tidak cepat lapar ketika mendaki landscape negara yang berbukit-bukit ini.
FullSizeRender (14)

Good morning!

Hari ke dua ini, kami ingin mengunjungi sebuah kota kecil yang terletak 50 km di sebelah utara ibu kota negara ini. Nama kota ini adalah Vianden, sebuah kota wisata yang cukup terkenal di Luxembourg. 50 km memang tidak jauh, tetapi karena jadwal kereta api untuk menuju ke sana hanya tersedia satu jam sekali, dan kami harus berpindah moda transportasi, kami berangkat gasik ke stasiun central. Seluruh transportasi umum yang kami tumpangi hari itu gratis, karena kami punya Luxembourg card. Sampai di stasiun Luxembourg, kami naik kereta api jurusan kota Diekirch. Kereta antar kota di negara ini mempunyai 2 kelas, yaitu kelas 1 dan kelas 2. Pemegang Luxembourg card tinggal naik saja ,tetapi hanya diperbolehkan naik gerbong untuk kelas 2. Kalau tidak punya Luxembourg card, tiket kereta apinya bisa dibeli di ticket machine atau di loket-loket stasiun. Harga tiketnya hanya 4 euro dan bisa dipakai seharian, termasuk untuk naik bus juga. Yang jelas traveling di negara ini , sistem transportasinya mudah dan murah. Stasiun kereta api juga terintegrasi dengan baik dengan terminal bus. Di mana ada stasiun kereta api di situ juga ada terminal bus. Kereta api yang kami tumpangi, terlihat modern dan bersih dengan fasilitas toilet di setiap gerbongnya. Kota Diekirch, adalah kota terakhir kereta ini berhenti. Kami lalu mencari halte bus no 570 di halaman stasiun ini. Bus no 570 ini juga hanya tersedia setiap satu jam sekali, tetapi jadwalnya menyesuaikan dengan jadwal kedatangan kereta dari Luxembourg city. Kami jadi tak perlu menunggu lama bus 570 ini datang.
Perjalanan selama di dalam kereta dan bus, membuat kami terkesima. Landscape Luxembourg yang berbukit-bukit ternyata sangat indah. Sesekali juga tampak kastil-kastil tua berdiri gagah di lereng-lereng bukit tersebut. Vianden adalah kota yang berbatasan dengan negara Jerman. Jadi selama di dalam bus kami melewati beberapa daerah yang di sebelah kiri Luxembourg dan di sebelah kanan sudah Jerman. Tinggal beberapa langkah saja sudah sampai Jerman 😀 . Batas negaranya juga hanya plang kecil bertuliskan Deutchland. Ga ada gerbang gapura heboh ala batas kabupaten seperti di Indonesia 😀 .
P1120802-001

Selamat datang di Vianden

Kami turun di halte bus Vianden breck. Halte paling dekat dengan Chateau de Vianden, kastil tercantik di negara ini. Yap! tujuan utama kami ke kota kecil ini adalah mengunjungi kastil ini. Namun begitu turun di halte dan melihat ke arah Chateau, rasanya sarapan saya pagi ini sudah terbakar habis. Chateaunya berada di puncak gunung! Kami harus mendaki ke sana! Kami tetap semangat, lalu perlahan-lahan meniti jalanan batu dari abad pertengahan yang membelah pusat kota Vianden ke arah atas bukit. Kota ini begitu kalem, asri dan cantik, dengan bangunan-bangunan lama berjejeran rapi. Tampak di beberapa bagian kota ini terdapat reruntuhan benteng dan menara pengawas dari abad pertengahan. This town looks medieval, just like in the fairy tale!
P1120823-001

Sudut kota kecil Vianden di pinggir sungai

P1120678-001

Tembok benteng dan tower pengawas masih terlihat di beberapa sudut Vianden

Setelah ngos-ngosan mendaki sampai gerbang kastil, akhirnya kami sampai juga. Meskipun kami agak iri kepada para pemilik kendaraan pribadi karena mereka bisa parkir di samping kastil dan ga perlu mendaki 😀 . Kami menunjukkan Luxembourg card di loket masuk, lalu petugas loket memberi kami tiket dan buklet kastil ini secara cuma-cuma. Kalau ga punya Luxembourg card, pengunjung dikenakan admisi 7 euro per orang. Petualangan menjelajahi kastil di atas bukit inipun dimulai! Dari yang tertulis di buklet, disampaikan bahwa kastil ini dibangun selama kurang lebih 3 abad, dari abad ke 11 sampai abad ke 14. Kastil Vianden merupakan salah satu kastil terluas dan tercantik pada periode gotik di Eropa.  Pemilik kastil ini sampai awal abad ke 15 adalah para Counts of Vianden yang kekuatan politiknya berpengaruh besar dan memiliki hubungan dekat dengan kerajaan Perancis dan kerajaan Jerman saat itu. Kastil ini pernah menjadi reruntuhan tak terawat, tetapi kemudian direnovasi besar-besaran setelah keluarga Grand Duke of Luxembourg menjadikanya salah satu monumen nasional pada tahun 1977.
P1120912-001

Setelah mendaki, we were almost there 😀

P1120692-001

Mari menjelajahi kastil ini, fotonya salah fokus 😛

Kami kemudian menjelajahinya dari ruangan ke ruangan. Seperti halnya kastil-kastil medieval yang pernah kami kunjungi sebelumnya di Eropa, ruang pamer museum di dalam kastil ini berisi peninggalan-peninggalan bersejarah dari masa kejayaannya. Terdapat ruangan pamer senjata dan baju besi para ksatria dari abad pertengahan, ruangan ballroom, ruangan prajurit, dapur istana, ruang makan, ruang tidur keluarga bangsawan serta ruang pamer benda-benda seni. Salah satu ruangan di kastil ini juga menjabarkan silsilah keluarga bangsawan yang pernah mendiami kastil ini. Ruangan kapel yang tadinya sederhana kini terlihat cerah ceria seperti warna kue ulang tahun 🙂 . Yang jelas museum di dalamnya sangat menarik, informatif dan interiornya well preserved deh. Ruangan favorit saya adalah ruangan ballroom dan dapur istana. Dapur istananya benar-benar didesain seperti dapur medieval jaman dahulu kala dengan peralatan masak terbuat dari besi berat dan perunggu. Di kastil ini juga terdapat balkon dan teras, di mana pengunjung bisa menikmati pemandangan kota Vianden dan perbukitan di sekitarnya. Karena masih awal musim semi, pohon-pohon di perbukitan ini belum sepenuhnya menghijau. Kalau pas hijau-hijaunya, saya yakin pemandangan perbukitan ini akan tampak lebih indah lagi.
P1120716-001

Ruang pamer senjata dan baju besi

P1120743-001

Sebuah teras dan koridor lebar di dalam kastil

P1120734-001

Kapel dengan cat berwarna seperti kue tart

P1120773-001

Dapur medieval

P1120784-001

Ruang aula utama di kastil Vianden

P1120787-001

Pemandangan alam dari atas kastil

Belum jam 12 siang, kami sudah merasa lapar. Benar saja, perjalanan mendaki ke kastil membuat kami lapar dengan mudahnya. Kami lalu memutuskan untuk turun gunung di mana banyak restoran dan kedai makan berjejeran di pusat kota ini. Kami memilih makan di kedai kebab karena murah meriah. Penjaga kedai ini ternyata hanya berbicara bahasa Luxembourgoise dan Jerman saja. Kami lalu memesan menu dengan bahasa isyarat 😀 . Sembari menunggu makanan datang, saya membaca guide book yang kami dapat dari tourism office kemarin. Kota medieval ini tak hanya mempunyai kastil saja. Pemegang Luxembourg card bisa mengunjungi beberapa tempat di kota ini secara gratis,yaitu museum sejarah kota vianden, central hidrolik, telesiege Vianden dan maison Victor Hugo. Lho kok ada maison Victor Hugo di Vianden ? Dia kan orang Perancis. Ternyata Victor Hugo pernah mengungsi di negara ini dan tinggal di suatu rumah yang kini menjadi museum.
P1120832-001

Salah satu sudut kota Vianden yang banyak kafe dan restoran dengan pemandangan kastil di atas bukit

Sambil makan siang kami memikirkan perjalanan kami selanjutnya. Kami tertarik untuk naik-naik ke puncak gunung dengan menaiki telesiege. Telesiege adalah kereta gantung yang bentuknya seperti kursi ayunan, yang biasanya digunakan sebagai kendaraan untuk ke tempat ski di atas gunung. Telesiege di Vianden ini, membawa penumpang sampai ke puncak bukit tertinggi di kota ini. Sayangnya pas kami sampai di lokasi stasiun telesiege, loketnya tutup dan baru buka esok hari 😦 .
Kami lalu mengunjungi tourism office Vianden untuk mencari informasi wisata lebih lanjut tentang area ini. Kami disambut baik, dan petugasnya memberikan peta jalur trekking di sekitar area ini. Ada banyak sekali jalur trekking yang bisa diikuti. Nama jalur trekkingnya adalah ourdall promenade. Petugasnya bilang, jalur trekking terpendek hanya memakan waktu 40 menit saja. Ia juga bilang, kalau kami capek di tengah jalan, kami tinggal mencari halte bus dan bisa naik bus ke arah Vianden sewaktu-waktu. karena it seems so easy, maka kami ingin mencobanya. Kami tertarik dan memutuskan untuk trekking di jalur yang dekat-dekat saja.  Awalnya kami berjalan kaki menyusuri pinggir sungai our sampai kami menemukan sebuah pemandangan chapel di atas bukit. Satu jam berlalu tapi kami masih belum separo perjalanan. 40 menit ala Luxembourg itu jangan-jangan 3 jam buat saya orang Indonesia? Perbukitan di kiri dan kanan kami terlihat gersang karena daun-daun belum tumbuh kembali selepas musim dingin. Saya jadi teringat pemandangan yang sama di daerah Gunung Kidul saat musim kemarau. Ternyata Luxembourg sama Gunung Kidul ada miripnya juga yaa 😀 .
P1120863-001

Trek di pinggir sungai our

Petunjuk jalan selama trekking memang jelas, tetapi karena terkadang kami penasaran dengan jalan-jalan setapak yang kami temui, kami hampir nyasar ke perbatasan Jerman. Lucu juga ya kalau bisa trekking antar negara. Kesannya cross country gitu, padahal jaraknya cuma dekat 😀 . Kami terus berjalan mengikut jalur trek yang ternyata mengharuskan kami mendaki bukit. Aiih ternyata lama kelamaan treknya berat juga seperti mendaki gunung dengan medan yang licin. Sepatu kami memang sepatu trekking tapi celana yang kami kenakan adalah celana jins yang tak nyaman untuk hiking. Gara-gara perjalanan ini , kami berpikir untuk membeli celana trekking yang ringan sesampainya di rumah nanti. Selama di trek mendaki ini, kami bertemu beberapa orang yang sengaja trekking dengan pakaian trekking lengkap. Kami juga bertemu para pesepeda cross forest. Ya mereka naik sepeda di jalur trekking yang curam ini! Salut deh! Kalau saya pasti bakal takut banget 😀 .
P1120897-001

Kapel putih di atas bukit

Beberapa saat setelah trek yang cukup berat sampailah kami di kapel putih. Sebuah kapel katolik di atas bukit yang juga terkenal sebagai tempat berziarah masyarakat setempat. Untuk menuju ke kapel ini sebenarnya bisa saja ditempuh dengan mobil atau motor, tetapi para pengunjungnya biasanya berjalan kaki dari Chateau Vianden. Di jalur ini terdapat simbol dan relief yang menunjukkan kehidupan Yesus. Di beberapa sudut jalan juga terdapat patung-patung bunda Maria. Tampaknya masyarakat Vianden begitu religius. Kami lalu berjalan kaki kembali ke pusat kota. Benar saja, 40 menit bagi orang sini adalah 3 jam bagi saya. Mungkin saya harus rajin-rajin olahraga lagi. Perjalan hari itu berakhir di sebuah kedai es krim tak jauh dari halte bus. Capeknya trekking terbayar dengan segelas besar es krim. Kami sangat senang telah berkunjung ke kota ini. Kota yang mempunyai peninggalan historis tetapi juga kaya dengan pemandangan alam. Salah satu destinasi yang tepat untuk melarikan diri dari kota besar.
P1120907-001

Kota Vianden dari atas bukit

Iklan

2 Komentar

Filed under Ke Luar Negeri

Runaway to Annecy #6 : Trekking di Roc de Chere

Hari ini adalah hari terakhir kami menjelajahi Annecy dan sekitarnya. Menurut prakiraan cuaca, hari ini agak sedikit cerah dibandingkan hari-hari sebelumnya. Rencananya kami ingin mengunjungi kastil Methon yang berada di kota Methon st Bernard, tak jauh dari Annecy. Tapi setelah cek dan ricek di website resminya ternyata kastil ini tutup selama musim dingin 😦 . Tak hanya itu, kastil-kastil medieval lain di luar kota Annecy juga tutup selama musim dingin untuk perawatan dan renovasi 😦 . Kami lalu mencari alternatif lain, seperti trekking atau mini hiking yang bisa dilakukan di kawasan danau Annecy. Awalnya kami tertarik untuk trekking menuju ke sebuah air terjun bernama cascade d’angon. Sayangnya menurut informasi dari situs resminya, treknya juga tak dianjurkan selama musim dingin karena sangat licin. Dan kami ga mau mengambil resiko. Kalau dibilang bahaya ya bahaya, jangan malah merasa tertantang 🙂 . Saya jadi teringat pas saya hampir terpeleset di Paris karena es di trotoar. Itu aja licin banget apalagi es di bebatuan gunung?
p1120184

Kota Annecy

Ke mana donk kita? Bingung nih. Maybe that’s why it’s cheaper in winter here, karena ga banyak tempat bisa dijelajahi, kecuali kalau mau ski sekalian. Tapi kami ga siap untuk main ski karena sewa peralatannya juga mahal. Suami saya lalu memutuskan untuk trekking di hutan di pinggir danau yang masih bisa dilalui di musim dingin. Hutan ini terletak sekitar 15 km dari kota Annecy. Untuk menuju ke tempat ini, kami menaiki bus umum no 61 dari terminal bus yang berada di stasiun Annecy. Wah, terminalnya ada di stasiun kereta. Yang paling saya suka ketika di Perancis adalah sistem transportasinya jelas. Stasiun dan terminal bus saling terintegrasi. Jadwal bus dan keretanya juga jelas, jadi kami ga berasa di php-in 😀 . Kami membayar 3 euro per orang untuk perjalanan berangkat dan pulang sekaligus.
P1120347

Pemandangan di depan halte bus, pegunungan bersalju dan pedesaan.

Ketika bus no 61 jurusan kota Talloires-Montmin datang, kami langsung naik dan memberitahukan ke pak sopir kalau kami ingin trekking di hutan yang dimaksud. Pak sopir mengiyakan dan akan memberitahu kami di halte mana kami harus turun. Perjalanan di dalam bus melewati jalan di antara danau dan pegunungan. Menyuguhkan pemandangan indah yang memanjakan mata. Perjalanan di dalam bus ini juga bisa dijadikan alternatif untuk keliling danau Annecy. Tak sampai setengah jam kemudian, pak sopir meminta kami turun di sebuah halte di kota kecil Talloires. Haltenya bernama Talloires-Montmin Les Granges. Sebenarnya sih ga ada bangunan halte ketika kami turun, tetapi ada tanda bus stop dan tiang merah yang menandakan halte. Di Perancis memang penumpang harus naik dan turun di tempat yang ditentukan ga bisa asal naik dari mana saja seperti di Indonesia.
P1120349

Pemandangan danau Annecy dari halte bus

Hutan lindung ini bernama Reserve Naturelle Roc de Chere. Terletak di sebuah bukit di pinggir danau Annecy yang luasnya mencapai 68 hektar. Altitudenya sekitar 447 sampai 700 meter di atas permukaan laut. Untuk mengawali perjalanan trekking kami, awalnya kami kesulitan dan sempat nyasar ke halaman rumah orang 😀 . Ternyata pintu masuk jalan setapak Roc de Chere memang sangat sempit. Berada di pinggir jalan raya di antara rumah-rumah penduduk. Untung saja kami nemu treknya, kalau ga mungkin kami mutung balik lagi ke Annecy 😀 . Jalan setapak di belakang rumah dan halaman penduduk ini begitu sempit, sampai kami menemukan tanda masuk hutan lindung ini berupa peta trekking dan keterangan mengenai flora dan fauna yang ada di dalamnya.
P1120351

Petunjuk jalur trekking roc de chere dari pinggir jalan

Trekking pun dimulai. Treknya jadi agak lebar, tetapi sangat menanjak dan agak ekstrim. Untung saja sepatu trekking kami dapat diandalkan di medan licin seperti ini. Sepanjang trek kami masih menemukan butiran-butiran salju yang belum mencair. Suhu udara saat itu memang masih di bawah 5 derajat jadi es-es ini agak awet menggumpal di atas tanah. Kami mendaki pelan-pelan dan berhati-hati supaya tak cepat merasa capek. Di separo trek menanjak ini terdapat bangku kayu dengan pemandangan danau Annecy dari atas, dan pegunungan Alpen yang diselimuti salju di seberangnya. Kami berhenti di sana untuk makan siang berupa bekal roti sandwich yang kami beli dari bakery tak jauh dari hotel. Makan siang sederhana dengan pemandagan yang cantik, tetapi juga sambil menahan dinginnya udara.
P1120362

Papan petunjuk dan peta di pintu masuk trek Roc de Chere

P1120365

Jalur trekking yang menanjak dan licin

P1120377

istirahat makan siang di sini

Meskipun musim dingin, tampaknya fauna-fauna di hutan lindung ini tak berhibernasi. Burung-burung seperti pouillot de bonnelli terdengar bernyanyi membawa keceriaan di dalam dinginnya hutan. Burung-burung yang berukuran agak besar dengan bulu berwarna-warni pun tak jarang melintas di hadapan kami.   Sayang, kamera poket saya tak sanggup meneropong dan menangkap mereka.  Hutan lindung yang dilindungi pemerintah sejak tahun 1977 ini memang menjadi rumah bagi aneka flora dan fauna seperti burung-burung, kadal hijau, anggrek hutan dan aneka serangga hutan. Onggokan dedaunan jatuh berwarna coklat dan lumut-lumut hijau adalah pemandangan yang bertebaran di seluruh bagian hutan ini. Bebatuan hitam dan putih serta akar-akar dan batang pohon semuanya tertutupi lumut, menandakan betapa lembabnya hutan ini selama musim dingin.
P1120395

Treknya penuh dengan butiran salju yang belum meleleh

P1120382

Pemandangan pegunungan Alpen di seberang Roc de Chere

Selepas trek menanjak, kami menemukan beberapa plang petunjuk jalan yang bisa diikuti oleh para pejalan kaki. Kami memilih trek yang paling panjang karena kami memang memiliki waktu seharian penuh hari ini. Sepanjang trek kami menemukan beberapa view point tempat memandang danau Annecy dari atas. Danau Annecy hari ini terlihat gelap karena langit memang mendung. Kami hanya berharap supaya tidak turun hujan, karena kami sedang di tengah hutan dan males kena basah 😀 . Beberapa jalan setapak di dalam hutan ini ada yang dipasangi tanda larangan yang berlaku selama musim dingin, terutama trek yang berada di tebing tepat di pinggir danau. Katanya sih, pas musim panas, justru trek ini paling ramai pengunjungnya karena mereka ingin loncat indah dan berenang dari atas tebing 😀 .
P1120399

Plang petunjuk jalan di dalam hutan mudah ditemukan

P1120393

Narsis dulu mumpung pemandangannya cantik

P1120389

Sebuah kastil di pinggir danau dilihat dari Roc de Chere

Selama kami berjalan kaki, kami ga ketemu satu orang pun di dalam hutan. Mungkin karena weekday, warga sekitar sibuk bekerja dan para wisatawan lebih memilih mengunjungi tempat lainnya. Rasanya sih hutan ini jadi milik kami, saking sepinya. Di sepanjang trek kami menemukan beberapa gua yang bisa dimanfaatkan sebagai tempat berteduh jika terjadi hujan deras. Untung saja, seiring kami berjalan ke ujung trek, cuaca mulai cerah, matahari mulai memancarakan sinarnya *cieh . Ujung trek yang kami tuju tembus ke kota Methon st Bernard. Baru di ujung trek ini, kami bertemu pasangan manula yang mengawali trek mereka. Mereka tersenyum dan say hi kepada kami, seperti layaknya salam yang disampaikan para pendaki gunung ketika saling bertemu di trek di Indonesia. Wiih hebat juga yaa bapak dan ibu ini, sudah tua tetapi tetep aktif trekking. Pemandangan kastil tua Methon dari kejauhan, menyambut kami di ujung perjalanan, dengan latar belakang pegunungan salju yang terlihat epic. I’m glad we did this trekking, itung-itung olahraga membuang lemak setelah terlalu banyak makan keju 😀 .
P1120417

Nemu goa di dalam hutan

P1120421

Nemu goa lagi 😀

P1120425

Another view point to the lake

P1120435

Kastil tua methon yang tampak epic

Di ujung trek ini juga, kami melewati sebuah makam tua milik seorang ahli sejarah dan filosof Perancis bernama Hippolyte Taine. Makamnya tampak tak terawat dan diselimuti lumut. Jangan-jangan, berhantu lagi ? Yang jelas, kalau malam saya bakalan takut lewat jalan setapak ini sendirian. Entah mengapa makamnya tampak tak diurus seperti ini.  Karena saya penasaran, sesampainya di hotel saya googling tentang nama bapak ini. Meskipun dulu saya pernah ikut kuliah wajib filsafat beberapa kali, saya belum pernah mendengar namanya sekalipun.  Dari temuan googling, Ia memang seorang sejarawan, kritikus, sastrawan dan filosof yang terkenal di jamannya di negara ini. Ia menciptakan beberapa quote yang akan saya sematkan sebagai akhir dari postingan saya kali ini 🙂 . Perjalanan trekking di dalam hutan pun, kadang ujungnya bisa menambah wawasan kita tentang filsafat 🙂 .
P1120432

Makam Filisof Hippolyte Taine

“I’ve met many thinkers and many cats, but the wisdom of cats is infinitely superior” -Hippolyte Taine-

 “There are four varieties of society, the lovers, the ambitious, observers and fools. The fools are the happiest.” -Hippolyte Taine-

“History is nothing but a problem of mechanics apply to psychology” -Hippolyte Taine-

 

10 Komentar

Filed under Ke Luar Negeri