Catatan perjalanan ke Fakfak #4 : Living with local di kampung Patipi Pasir

Setiap sore anak-anak patipi pasir bermain bola di pantai halaman belakang base camp kami

Setiap sore anak-anak patipi pasir bermain bola di pantai halaman belakang base camp kami

Hari minggu pagi jam 8, L 300 pakdhe sudah menjemput kami di rumah negara di distrik Kokas. Tim saya yang anggotanya 3 wanita dan 1 pria , akan pindah wilayah penelitian ditemani oleh 4 orang laki-laki dari tim lain. Jadi karena ada dua tim sekaligus, jumlah total kami ada 8 orang sekarang. Kami akan menjelajahi dari kampung ke kampung di distrik teluk patipi dan distrik pemekaran purwagi. Distrik teluk patipi berada di sebelah barat distrik kokas. Walaupun tampak berbatasan kami harus membelah hutan sekitar 2 jam untuk sampai di ibukota distrik yaitu kampung patipi pasir. Awal mulanya jalanan masih beraspal mulus, tetapi lama-kelamaan aspalnya habis dan jalanan berubah menjadi batu-batu dan pasir saja. Tidak hanya itu, jalanan juga berkelok, naik dan turun tajam. Untung saja pakdhe adalah supir segala medan. Ia bilang selama masih ada jejak roda mobil di sana, ia akan berani melewatinya🙂.

Kami sampai di kampung patipi pasir menjelang siang hari. Disambut oleh beberapa staf distrik. Kami kemudian diberi tempat tinggal bersama penduduk lokal, seperti anak-anak KKN. Kami tinggal di keluarga pak Aman yang memang sudah biasa menampung anak-anak KKN. Sehari-hari di rumah ini ada 3 orang saja yaitu Bapak Aman, Mama Azizah dan Wahyu yang masih SD. Kakak-kakak Wahyu tinggal di kota Fakfak untuk sekolah. Sesekali mereka pulang kampung pas liburan. Kedatangan kami tentu saja membuat rumah ini menjadi ramai dan agak ribut😀.

senyum ceria dari patipi pasir

senyum ceria dari patipi pasir

Kampung patipi pasir berada di ujung barat distrik teluk patipi. Disebut demikian karena rumah-rumahnya dibangun diatas pasir di pinggir pantai. Halaman belakang rumah yang kami sebut sebagai base camp ini merupakan pantai yang setiap harinya menyajikan pemandangan sunset dan senja yang indah. Malam harinya pun tak kalah indah, bintang bertaburan bak kristal di langit. Terkadang ,malam hari kami juga nongkrong di pinggir pantai sambil minum kopi senang, kopi favorit di Papua. Setiap hari kami di sini hidup tanpa listrik karena PLN belum sampai di sini. Terkadang kami menyalakan genset yang diisi dengan bensin 3 liter semalamnya. Sebagian besar penduduk patipi pasir memiliki genset, meskipun tidak setiap malam mereka menyalakannya karena bensin di patipi pasir harganya Rp 10.000 satu liternya. Untuk listrik saja semalam bisa habis Rp 30.000, kalau sebulan terus menerus bisa habis Rp 900.000. Untung saja setiap rumah juga mendapatkan fasilitas solar cell untuk lampu. Jadi malam hari di sini ga gelap-gelap amatlah. Di kampung patipi pasir bahkan di semua wilayah distrik di teluk patipi sampai saat saya di sana tidak ada sinyal sekalipun. Tower sudah dipasang di kampung tetar tetapi belum difungsikan. Jadi selama 3 minggu di sana, kami off sinyal. Jika ingin berkomunikasi dengan teman-teman kami di distrik lain, kami titip sms kepada supir-supir angkutan umum yang setiap harinya pergi ke kota fakfak. Kadang-kadang kami juga titip surat. Benar-benar seperti jaman belum ada hp. Puasa sinyal otomatis juga puasa dari sosial media, jadi kami benar-benar tidak tau ada berita apa yang lagi trending di luar sana. Itung-itung detox dari internet dan socmed lah. Saya meminta suami saya dan keluarga saya bersabar sampai 3 minggu karena tidak bisa berkomunikasi dengan saya.
Buat saya tidak ada sinyal tidak masalah, yang penting ada air. Untung di kampung ini air ada banyak! Meskipun air minum utama adalah air hujan yang ditampung, sumur di samping tidak pernah kering. Setiap hari kami mencuci di sumur bareng-bareng dengan ibu-ibu kampung. Jika ingin mandi atau menggunakan kamar mandi, kami harus menimba terlebih dahulu. Itung-itung olahraga!😀
Masyarakat kampung Patipi Pasir adalah orang Onim. Di distrik teluk patipi penduduknya sebagian besar dari 2 suku yaitu orang Onim dan orang Iha. Orang Onim merupakan orang laut yang mata pencaharian utamanya adalah nelayan, sedangkan orang Iha adalah orang gunung yang mata pencaharian utamanya adalah berkebun dan bertani. Meskipun demikian orang Iha boleh mencari ikan di laut dan orang Onim juga boleh berkebun. Bahasa ke dua suku ini juga berbeda jauh. Untuk saling berkomunikasi antar ke dua suku tersebut mereka menggunakan bahasa Indonesia khas Papua. Ketika kami di sana pun kami mencoba berbahasa Indonesia ala Papua dengan masyarakat. “Itu sudah! mari kaka kitorang putar kopi sama-sama mo”.
Mama dan anak-anak piaranya selama 3 minggu

Mama dan anak-anak piaranya selama 3 minggu

Mama Azizah adalah mama piara kami di rumah tersebut. Orangnya pandai bercerita, sedikit cerewet namun lucu. Seperti mama-mama papua pada umumnya ia juga kecanduan sirih pinang dan rokok pandoki. Rokok pandoki adalah rokok dari tembakau lokal dengan bungkus daun nipah. Ketika kami bertugas ke kampung lain mama selalu berpesan kepada kami untuk membawa pulang buah pinang. Buah favorit mama-mama papua yang harganya lumayan mahal. Mama pernah berkata kalau lebih baik ia tidak makan nasi daripada tidak makan pinang. Saya sampai heran, jangan-jangan campuran antara pinang, kapur dan sirih ini menimbulkan zat adiktif? Setiap saya bertemu mama-mama papua di berbagai kampung pastilah gigi dan bibirnya merah karena mengunyah sirih pinang. Mama mempunyai pohon sirih di rumahnya. Ia bilang siapapun yang mencuri buah sirihnya akan terkena sasi yang ia pasang di sana. Sasi adalah semacam pagar gaib yang memberikan efek buruk pada para pencuri sirihnya. Ia bilang si pencuri akan terkena hukuman bajunya digigitin tikus. Well yea, sebegini pentingnya pohon sirih untuk mama, untung saya tidak menyentuh pohon itu sedikitpun😀.
ikan kakap bakar ala mama

ikan kakap bakar ala mama

Setiap hari mama memasakkan aneka kuliner khas Fakfak. Favorit saya adalah ikan kakap bakar dengan sambal colo-colo dan sayur tagas-tagas. Ikan-ikan itu adalah hasil bapak memancing di laut. Selama 3 minggu di sana, kami makan beraneka macam ikan seperti ikan baubara, ikan pari, ikan kakap merah dan ikan cakalang. Enaknya jadi orang patipi pasir adalah tinggal bawa pancing sederhana ke laut sudah dapat ikan untuk makan. Sayur-mayur seperti daun singkong atau gnemo (melinjo) juga tinggal petik saja di kebun. Sayur tagas-tagas adalah campuran dari aneka sayur mayur dimasak seperti sayur asam. Mama juga suka membuat aneka macam kue-kue dan jajanan untuk kami. Masakan mama sangat segar dan enak!

makan bersama

makan bersama

Menulis catatan ini membuat saya kangen dengan Mama dan keluarganya serta suasana di Patipi Pasir. Sayang kami tidak bisa segampang menelepon atau kirim sms untuk menghubunginnya. Pengalaman di Patipi Pasir ini memperkuat keyakinan saya bahwa masih banyak strangers di luar sana yang berbeda suku, bahasa dan budaya dengan kita tetapi bisa menganggap kita seperti keluarga sendiri. Tak kenal maka tak sayang. Travel is the best way to understand about strangers and other culture. Seperti quote ini! “To travel is to discover that everyone is wrong about other countries”.
detik-detik perpisahan dengan kampung patipi pasir dan keluarga mama, semoga suatu saat nanti bisa berjumpa kembali

detik-detik perpisahan dengan kampung patipi pasir dan keluarga mama, semoga suatu saat nanti bisa berjumpa kembali

8 Komentar

Filed under Keliling Indonesia

8 responses to “Catatan perjalanan ke Fakfak #4 : Living with local di kampung Patipi Pasir

  1. berkesan bangett … anak zaman sekarang .. tinggal ditempat terisolir seperti ini …. masih banyak tempat2 di indonesia yang indah ini yang belum tersentuh oleh budaya .. update status ..🙂

  2. wah asik ke Fakfak, ikuuut😀

  3. Aaaagh aku jadi gemes, kenapa tempat seperti ini kok jauh sekali dari Jawa. Padahal menawarkan kehidupan yang (menurut pandanganku sih) eksotis. Habis baca ini saya jadi pingin KKN di sana. Pasti tiap hari ada saja bahan buat cerita dan jadi renungan…

    • Eh emang masih kuliah yaa? kok KKN? Kirain udah tua hahaha😀 .Kalau ada banyak waktu sih bisa naik kapal laut ke Papua, kalau ga tinggal sama penduduk lokal biasanya orang Jawa yang merantau mau membantu menyediakan tempat tinggal di sana🙂

      • Udah tua aku mbak, 29 umurku, lulus kuliah dah bertahun-tahun-tahun yang lalu. Tapi entah kenapa buatku KKN itu ibarat jalan2 yang menyenangkan (terlepas dari tugas proker dan bikin laporan :p) bisa kenal lebih dekat dengan kehidupan warga setempat. Klo cuma traveling biasa kan hanya beberapa jam di sana. Kasarnya, numpang lewat doang gitu, hehehe. Lha emang di Patipi Pasir juga ada komunitas Jawa ya mbak?

      • Ihh ternyata cuma beda dikiit hahaha. Iya KKN emang menyenangkan, apalagi sekarang UGM KKN nya bisa jauh-jauh *iri . Kalau Patipi pasir ga ada orang jawa tapi di kampung lain ada.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s