I lost my heart in Prague #1 : Republik Ceko, new country unlocked

I’ve got a surprise! Surprisenya berupa tiket pesawat pulang pergi Paris – Praha dan akomodasi selama di sana. Surprisenya dari suami sendiri😀 . Dan Praha adalah salah satu kota yang paling ingin saya kunjungi di Eropa. Bahkan sewaktu saya di Indonesia, saya malah lebih membayangkan pengen ke Praha daripada ke Paris. Mungkin akibat nonton videonya Nicholas Saputra dan Mariana Renata di youtube yang bilang kalau Praha lebih romantis daripada Paris😀 . Udah pernah nonton videonya belum? Kalau belum saya embed deh di bawah ini🙂 .
Sebagai istri pecinta jalan-jalan seperti saya, kado seperti ini lebih uwooww dan lebih berharga daripada tas mahal atau barang mahal lainnya. Jeda waktu antara dikasih surprise sama waktu keberangkatan cuma 2 hari, dan suami saya ga nyiapin itenerary apapun untuk perjalan kami selama 5 hari 4 malam di sana. Akibatnya saya kelimpungan bikin itenerary. Selain Prague castle, charles bridge, dan old town , enaknya ke mana lagi yaa?
img_4924

Prague card dan buku panduan keliling Prague

Eniwei untungnya selain akomodasi, suami saya ternyata sudah membuking Prague card yang bisa digunakan selama 4 hari di sana. Prague card apaan sih? Prague card adalah kartu pass beserta buku panduan yang bisa digunakan untuk masuk museum-museum utama secara gratis dan kartu ini juga bisa digunakan untuk naik transportasi umum dari mulai tram, bus dan metro secara gratis. Transport senilai 7 euro menggunakan bus airport express dari bandara ke pusat kota juga gratis. Untuk 4 hari kami membayar 65 euro per orang. Mahal sih, tapi aksesnya bisa free ke 48 museum. Lagian kalau satu museum rata-rata tiketnya 10 euro, lebih murah kalau punya Prague card kan? Kecuali kalau ke Praguenya cuma mau random walk saja tanpa masuk ke museum apapun. Prague card juga menawarkan banyak diskon ke beberapa restoran, kafe-kafe serta boat tripping dan masih banyak lainnya. Kalau pengen buking Prague card, silahkan klik link ini. Bukti bukingnya bisa ditukarkan di Prague tourist information desk yang ada di airport, stasiun kereta atau tourist information centre yang ada di old town. Mau membeli Prague card langsung di tempat juga bisa.
img_4923

Tourist information centre di bandara Letiste Praha

Sehari sebelum berangkat kami googling seharian tentang things to do in Prague. Yang jelas dari hasil penelusuran google aja listnya banyak banget dan 4 hari ga cukup untuk menjelajahi semuanya. Kami menemukan sebuah channel di youtube yang sangat membantu traveler terutama budget backpacker untuk menjelajahi Praha. Videonya helpfull banget, mulai dari bagaimana cara menggunakan transportasi umum di Praha, cara menemukan money changer yang jujur dan gimana caranya makan hemat di sana. Saya cantumkan link channelnya di bawah ini ya🙂 .
Kami terbang dari Paris siang hari menggunakan pesawat easy jet, salah satu maskapai low cost di Eropa. Suami saya bilang, ia hanya membayar 30 euro untuk one way per orang, karena ia sudah membuking dari jauh hari. Murah kan ya? Traveling keliling Eropa memang terkadang bisa murah banget asal rajin browsing tiket pesawat dan kereta. Perjalanan dari Paris ke Praha memakan waktu sekitar 1,5 jam. Kami mendarat sekitar jam 4 sore di bandara Letiste Praha, saat langit mulai gelap. Traveling di kala winter di Eropa emang gitu sih, kebagian sinar mataharinya cuma 6 sampai 8 jam doank.
img_4919

Fly with easy jet🙂

Suami saya adalah orang yang tipenya lebih suka bawa kartu kredit daripada cash. Kalau saya sih lebih suka sedia cash berupa euro agar bisa ditukarkan di money changer yang recommended di Praha. Membawa sedikit cash menurut saya juga penting, untuk jaga-jaga seandainya kartu kredit direject di negara orang. Meskipun kartu kreditnya pernah tertelan mesin atm di Bali, suami saya sih tetep keras kepala untuk ga bawa cash sama sekali😛 dan melarang saya bawa cash *duh . Ketika sampai di arrival hall bandara, kami kemudian menarik uang dari mesin atm yang rata-rata kursnya 24 CZK per 1 euronya. Oyaa, Republik Ceko mata uangnya bukan euro lho yaa, meskipun berada di wilayah schengen dan anggota dari Eropean Union. Republik berpenduduk 10 juta manusia ini bermata uang CZK atau Czech Koruny. Normalnya sih 1 euro sama dengan 27 czk, tetapi banyak money changer nakal yang memasang tarif 1 euro sama dengan 15-18 czk. Menurut saran dari video youtube yang saya cantumkan di atas, paling ga carilah money changer yang bertarif 1 euro minimal 24 czk . Money changer terpercaya di tengah kota Praha biasanya bertarif 1 euro sama dengan 26 czk.
img_4921

Pertama kali pegang Czech Koruny

Sore itu juga di bandara, kami langsung menukarkan bukti buking Prague card kami di tourist information centre. Prague cardnya langsung kami gunakan untuk naik bus airport express dari bandara ke pusat kota yang memakan waktu sekitar 45 menit. Kami turun di pemberhentian terakhir yaitu di stasiun kota, lalu berjalan kaki sampai di hotel. Tenyata jauh bo! Akibat kebutaan kami terhadap metro dan tram kami milih jalan kaki. Di buku panduan memang ada peta tram , tapi petanya sungguh tidak helpfull dan ternyata out of date😦 . Peta metronya sih helpfull, tetapi stasiun metro terdekat dari hotel kami sangat jauh letaknya.
img_4925

Menunggu bus Airport Express di terminal 2 Letiste Praha airport

Untuk akomodasi selama 4 malam di kota ini, suami saya sudah menyewa sebuah kamar di mosaic house. Sebuah hotel dan hostel dengan desain unik yang letaknya berada di daerah Nove Mesto atau New Town. Kebetulan kami juga dapat diskon gedhe untuk menginap di sini karena sudah buking beberapa bulan sebelumnya. Kamar yang kami tempati cukup simple dan minimalis dengan ornamen dinding yang diambil dari Lennon Wall, sebuah tembok terkenal di kota Praha. View kota dari kamar kami yang berada di lantai 5 pun sangat cantik dengan latar belakang Prague Castle di kejauhan. Kami juga mendapatkan buklet cuma-cuma untuk jalan-jalan di kota ini yang isinya peta dan tips-tips unik ala anak muda Praha😀 .
p1110342-001

Kamar hotel di mosaic house dengan wallpaper dari Lennon Wall

Ok, we’re ready to explore this Bohemian city! Tapi ceritanya lanjut besok lagi yaaa🙂

6 Komentar

Filed under Ke Luar Negeri

How do I finance my travel #1 : Keliling Indonesia gratis, bahkan dibayar ala asisten peneliti lapangan

Catatan ini adalah tentang pekerjaan saya ketika tinggal di Indonesia. Saya pengen nostalgia sedikit dengan menuliskannya di sini. Catatan tentang obsesi traveling saya yang besar namun dengan dana yang terbatas😀 . Background saya sendiri dari keluarga sederhana. Saya bisa jalan-jalan ke mana-mana ya setelah saya bekerja dan menabung. Sebagian besar postingan-postingan keliling Indonesia yang saya tulis di blog ini ya karena pekerjaan saya. Mungkin ada yang tertarik untuk bekerja seperti saya ?

Kampung adat senaru, salah satu kampung tradisional di Lombok Utara

Waktu saya penelitian di Senaru, Lombok Utara tahun 2013

Awalnya di tahun 2009, saya resign dari sebuah perusahaan di Malaysia karena saya gampang bosan kerja di balik meja. Seorang teman kemudian menyarankan saya mendaftar sebagai asisten peneliti lapangan di sebuah lembaga penelitian di UGM. Universitas tempat saya belajar juga. Pekerjaan tersebut freelance dengan kontrak terbatas. Teman saya, dulunya juga berprofesi sama dengan saya. Setelah sekali ke lapangan, waktu itu di Bondowoso dan Probolinggo, saya kecanduan! Saya begitu menikmati pekerjaan saya karena saya bertemu dengan orang-orang baru setiap hari dan menjelajahi tempat-tempat baru setiap hari. Meskipun Bondowoso dan Probolinggo letaknya tak jauh dan masih di pulau Jawa, pengalaman perbedaan budaya yang saya dapatkan sangatlah menarik.

Morning at bromo, view from cemoro lawang

Awal saya ikut penelitian di Probolinggo, bisa ke Bromo gratis dan melihat view seperti ini🙂

Asisten peneliti lapangan? Mungkin profesi seperti ini tak sefamiliar profesi-profesi yang lain, karena di Indonesia sendiri baru mulai marak setelah tahun 1997. Tugas kami sebagai asisten peneliti lapangan tergantung kepada tema penelitian yang dilakukan. Biasanya kami melakukan survei dengan kuesioner, melakukan indepth interview, melaksanakan FGD, mengambil data sekunder, melakukan pemetaan sosial, mengambil foto dan lain-lain. Ada pula yang tugasnya mengedit dan mengimput data wawancara. Untuk mengumpulkan data kami dikirim ke seluruh penjuru Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Terkadang kami lebih banyak bertugas di pedesaan dan daerah-daerah pedalaman.

narsis di depan kantor bupati

Narsis di depan kantor bupati sumbawa besar ketika off duty

Yang jelas semua cerita perjalanan saya ada di blog ini😀 . Semua daerah yang pernah saya kunjungi berkesan untuk saya, tetapi yang paling saya sukai adalah ketika berada di Flores dan Papua Barat. Hampir semua pulau besar di Indonesia sudah saya injak, kecuali Kalimantan. Semoga kapan-kapan saya bisa jalan-jalan ke Kalimantan deh🙂 . Karena waktu itu saya masih perawan, dan emang pengennya traveling terus. Gaji saya sebagai asisten peneliti lapangan saya tabung untuk traveling juga. Kadang saya traveling di Indonesia kadang juga backpacking ke luar negeri.

Saya di rumah adat gendang di Ruteng Pu'u

Saya di rumah adat gendang di Ruteng Pu’u, Flores

Pekerjaan semacam ini, untuk orang-orang yang kecanduan jalan dan traveling seperti saya, cukup mengasyikkan dan tentu saja memberi sejuta pengalaman. Apalagi untuk mereka yang suka jalan-jalan tapi ga punya tabungan untuk jalan-jalan. Traveling dan dibayar , seems too good to be true! But wait, menurut saya hanya orang-orang tertentu saja yang benar-benar bisa tahan dan enjoy menjadi asisten peneliti lapangan. Orang-orang seperti apakah? Saya buat daftarnya di bawah ini😀 :

  1. Biasanya lembaga penelitian mensyaratkan background pendidikan tertentu untuk bisa ikut dalam penelitian mereka. Kebanyakan untuk mereka yang masih kuliah atau lulusan D3/S1 semua jurusan. Tetapi semua tergantung project penelitian dan lembaganya.
  2. Orang yang jujur. Serius ini! Kalau ga jujur, bakalan ketahuan. Kunci utama menjadi asisten peneliti lapangan adalah kejujuran.
  3. Mereka yang benar-benar suka traveling. Ask yourself , kamu beneran suka traveling atau cuma ikut-ikutan suka traveling? Beneran suka traveling atau suka foto-foto doank ?😀
  4. Mandiri dan tidak manja.
  5. Mereka yang bisa bertahan hidup dan siap ditempatkan di mana saja. Benar-benar siap ditempatkan di daerah-daerah pelosok minim fasilitas. Terkadang di daerah tanpa lampu, tanpa air bersih dan tanpa kamar mandi. Medan yang ditempuh juga kadang bermacam-macam, bisa berbukit-bukit dan berlumpur. Are you ready to live like this?
    Saya jadi terbiasa mencuci dengan air sungai coklat :)

    Saya jadi terbiasa mencuci dengan air sungai coklat karena tidak ada air tawar bersih🙂

    DSC05895

    Jalan antar kecamatan di papua masih banyak yang seperti ini, sudah siap?

  6. Mereka yang berpikiran terbuka, cepat beradaptasi dan mau belajar tentang budaya asing. Kalau saklek dan berpikiran tertutup, mending ga usah daftar deh. Nanti bisa shock melihat budaya yang sangat berbeda dari budayamu sehari-hari meskipun masih di Indonesia.

    If you reject the food, ignore the customs, fear the religion and avoid the people, you might better stay at home. -James Michener-

    If you reject the food, ignore the customs, fear the religion and avoid the people, you might better stay at home. -James Michener-

  7. Mereka yang siap bekerja keras sampai tengah malam bahkan harus bangun pagi-pagi demi target pekerjaan. Ya, target pekerjaannya banyak lho! Tapi jangan khawatir, ada hari liburnya juga. Dan terkadang di sela-sela bekerja, kita bisa mengunjungi tempat-tempat yang indah.
  8. Mereka yang bisa bekerja di dalam tim dan mudah bekerja teamwork. Kalau egois dan individualistik, bakalan ga tahan sendiri di dalam tim tersebut.

    tim utara

    Saya dan teman-teman satu tim saya turun dari Susi Air di Bintuni, Papua Barat

Dari list di atas apakah kamu banget? Dan kamu siap bekerja seperti itu ? Kalau iya, rajin-rajinlah membuka dan mengecek lowongan di website di bawah ini :

Di Indonesia sendiri, sebenarnya ada banyak lembaga-lembaga penelitian. Tetapi semua itu akan diketahui setelah berkecimpung di dalam dunia asisten peneliti lapangan. Intinya semua dari pengalaman dan networking. Website-website dari lembaga penelitian di atas terkadang mengumumkan lowongan terbuka bahkan untuk new comer sekalipun. Are you interested ?

A journey of a thousand miles must begin with a single step. -Lao Tzu

A journey of a thousand miles must begin with a single step. -Lao Tzu

4 Komentar

Filed under Keliling Indonesia, Travel Stuff and Tips